Disiplin Belajar bagi Siswa Inklusi

pic: jozikids.co.za

Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang di percaya, berupa tanggung jawab. Pendisiplinan adalah usaha untuk menanamkan nilai atau pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk mentaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa jadi istilah pengganti hukuman.

Banyak sekali orang tua mengasumsikan bahwa disiplin belajar pada anak harus di sertai dengan aturan-aturan yang cendrung sifatnya memaksa dan mengabaikan perasaan, tapi malah justru mematikan kreatifitas dan keberbakatan pada diri anak. Jadi  disiplin yang tercipta cendrung hanya demi memenuhi target keinginan para orang tua.

            Semua anak adalah inklusi, butuh orang lain di sekitarnya untuk membimbing dan mengarahkan dirinya pada hal-hal yang sesuai dengan keinginan dan kemampuanya, bimbingan disini bisa di rumah maupun di sekolah. Banyak di jumpai beberapa kasus, anak- anak yang di paksa untuk belajar, demi target orang tua, dan kebahagian orang tua. Ada beberapa yang berhasil, dan ada beberapa yang gagal. Yang berhasil mewujudkan mimpi orang tuanya, namun justru ternyata dia tidak menemukan jati dirinya, merasa kosong dan tidak bisa apa-apa. Sementara  yang gagal, jadi bulan-bulanan, dan akhirnya timbul pemberontakan dan keputusasaan.

            Disiplin itu harus, tegas juga harus, marah yang mendidik juga boleh, namun jika sudah menjadi korban maka harus di tolong. Untuk itu kembali kepada logika disiplin, orang yang melakukan kejahatan, maka harus di hukum, artinya hukuman hanya berlaku bagi orang yang melakukan kejahatan. Sementara kesalahan, harus di luruskan, disadarkan dan di arahkan kehal-hal yang menjadikan nya baik. Penerapan disiplin kepada anak usia dini bukan pekara yang mudah, butuh kerjasama yang solid bagi kedua orang tua untuk menciptakan generasi yang mandiri dan bertanggung jawab. Ada beberapa trik yang harus di terapkan dalam mendisiplin siswa inklusi, diantaranya adalah:

  1. Ajak selalu anak-anak pada aktivitas keseharian di rumah. Melibatkan pada tugas atau pekerjaan yang bisa di lakukanya sendiri, seperti meletakan pakaian kotor pada tempatnya,membuang sampah pada tempatnya, merapihkan mainan sendiri dan mengambil makan dan minuman sendiri dan mencuci piring nya sendiri.
  2. Membuatkan jadwal aktivitas nya mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Tujuan nya adalah menciptakan pembiasaan, agar anak-anak tau waktunya dia bermain, belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah.
  3. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Maksudnya disini adalah belajar tidak harus menoton pada teori, namun ada kalanya anak-anak suka mempraktikan, seperi pada pelajaran sains,  atau mengubah metode belajar dengan permainan seperti matematika dan bahasa.
  4. Menumbuh kembangakan keberbakatan, dengan cara memperkenalkan semua aktivitas yang berhubungan dengan skill. Tujuan nya adalah untuk melatih kemampuan lain di luar akademik. Menumbuhkan bakat yang kelak berguna bagi dirinya.
  5. Menyediakan waktu untuk menjadi pendengar dan mengarahkan anak untuk bisa menyelesaikan masalahnya.
  6. Libatkan selalu Tuhan dalam setiap aktivitas, gunannya untuk menambahkan kemampuan spiritual, melatih sabar dan ikhlas pada kejadian-kejadian yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Penulis : Rusdiana S.Pd

Add comment


This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.