<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>anak usia dini &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sekolahku.sch.id/tag/anak-usia-dini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Oct 2023 04:15:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://sekolahku.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-sekolahku-favicon-32x32.png</url>
	<title>anak usia dini &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Melatih Buang Air Besar di Toilet</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2023/10/03/melatih-buang-air-besar-di-toilet/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Oct 2023 04:06:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak usia dini]]></category>
		<category><![CDATA[kemandirian]]></category>
		<category><![CDATA[toilettraining]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=1068</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Restiyanti Wahyudin., S.Psi Toilet Training Toilet training penting dilakukan untuk membuat anak lebih mandiri dan dapat mempermudah penempatan mereka di sekolah. Sebelum toilet training dilakukan, anak harus dipersiapkan untuk konsep toilet training, di ataranya sering mengganti popok begitu basah, memberikan komentar jika dia basah “kamu ngompol atau kamu basah” dan dudukkan anak di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh : Restiyanti Wahyudin., S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Toilet Training</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Toilet training</em> penting dilakukan untuk membuat anak lebih mandiri dan dapat mempermudah penempatan mereka di sekolah. Sebelum <em>toilet training</em> dilakukan, anak harus dipersiapkan untuk konsep <em>toilet training</em>, di ataranya sering mengganti popok begitu basah, memberikan komentar jika dia basah “kamu ngompol atau kamu basah” dan dudukkan anak di toilet setiap ke kamar mandi. Anak juga perlu diperkenalkan mana kering mana basah dengan melatih anak, pegang celana kering, pegang celana basah supaya anak paham atas target yang kita inginkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tanda-tanda anak siap untuk toilet training :</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Umur kronologis dan perkembangan umurnya</li>



<li>Apakah anak seperti memperhatikan ketika popoknya basah atau kotor</li>



<li>Apakah dia tertarik untuk ke kamar mandi, cuci tangan, ganti baju, dll</li>



<li>Apakah anak lari atau sembunyi saat BAB dan memiliki BAB teratur?</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Prosedur melatih Buang Air Besar di Toilet :</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Pastikan anak memiliki feses yang baik, </strong>tidak terlalu keras yang sulit dikeluarkan. Jika ada masalah dengan struktur feses (konstipasi) konsultasikan ke dokter anak.</li>



<li><strong>Kumpulkan data tentang waktu, tempat, struktur feses, baju yang dipakai dan mungkin jenis makanan (pedas, asam, dll) sehingga kita bisa membuat programnya.</strong></li>



<li><strong>Bawa ke toilet setiap 15 menit di saat kira-kira anak akan BAB</strong>, dan berikan <em>reinforcer</em> jika berhasil dan walau tidak disarankan bisa diberikan hukuman dalam bentuk membersihkan pakaiannya atau mengambil barang yang dia mainkan atau inginkan. Ini adalah pilihan terakhir jika <em>reinforcer</em> tidak memberikan efek yang berarti buat anak. Kenapa hukuman ini dibolehkan, karena kesempatan latihan untuk BAB sangat sedikit hanya 1-2 kali sehari, sehingga menambahkan hukuman akan membantu anak untuk membedakan <em>behaviour</em> mana yang diharapkan dan mana yang tidak. (tetapi hukuman tidak disarankan untuk melatih buang air kecil)</li>



<li>Jika anak sudah terbiasa dengan rutinitas, misal BAB dalam diaper di balik sofa, <strong>maka lakukan pelan-pelan perubahan terhadap anak, jangan terlalu drastis karena anak akan menolak.</strong></li>



<li><strong>Contoh prosedur anak menggunakan pampers (disesuaikan dengan kondisi anak) :</strong></li>
</ol>



<ul class="wp-block-list">
<li><em>Prompt</em> dan berikan <em>reinforcer</em> jika anak BAB dalam diaper di depan sofa.</li>



<li><em>Prompt </em>dan berikan <em>reinforcer</em> jika anak BAB dalam diaper di depan kamar mandi.</li>



<li><em>Prompt</em> dan berikan <em>reinforcer</em> jika anak BAB dalam diaper sambil berdiri di toilet.</li>



<li><em>Prompt</em> dan berikan <em>reinforcer</em> jika anak BAB dalam diaper di kloset.</li>



<li><em>Prompt</em> dan berikan <em>reinforcer</em> jika anak BAB di kloset dengan diaper diturunkan.</li>



<li><em>Prompt</em> dan berikan <em>reinforcer</em> jika anak BAB di kloset tanpa diaper.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Catatan :</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu juga bisa menempelkan gambar prosedur buang air besar di dinding kamar mandi supaya anak lebih mudah mengingat dan mengikuti prosedurnya secara mandiri tanpa terus diingatkan. Termasuk prosedur cuci tangan setelah buang air.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kapan Anak Siap Untuk Toilet Training?</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2023/04/08/kapan-anak-siap-untuk-toilet-training/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Apr 2023 08:32:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak belajar]]></category>
		<category><![CDATA[anak usia dini]]></category>
		<category><![CDATA[toilettraining]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=998</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Riskya Prima Claranita, S.Psi.Toilet training adalah kemampuan awal yang harus dikuasai oleh anak-anak agar dapat mandiri dalam mengurus diri baik saat saat di rumah ataupun saat mulai bersekolah. Dengan melatih anak mengurus diri di toilet, parents tidak perlu lagi khawatir harus menganti popok atau celana, serta membersihkan area yang basah atau kotor karena anak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><br>Oleh: Riskya Prima Claranita, S.Psi.<br>Toilet training adalah kemampuan awal yang harus dikuasai oleh anak-anak agar dapat mandiri dalam mengurus diri baik saat saat di rumah ataupun saat mulai bersekolah. Dengan melatih anak mengurus diri di toilet, parents tidak perlu lagi khawatir harus menganti popok atau celana, serta membersihkan area yang basah atau kotor karena anak yang mengompol. Selain itu, kemampuan toileting juga menjadi salah satu kriteria anak siap untuk bersekolah loh parents. <br>Melihat pentingnya toilet training, ternyata kesiapan anak untuk berlatih toilet tidak ditentukan oleh usia loh parents. Meskipun biasanya anak di usia 18 -24 bulan  telah menunjukan jika mereka telah siap untuk berlatih mengurus diri di toilet, namun terdapat faktor-faktor lainnya yang menunjukan kesiapan anak untuk toilet training. Apa saja ya parents kesiapan untuk melatih kemampuan ini?<br>Menurut Narayan dan Kutty, terdapat beberapa faktor untuk mengetahui kesiapan anak dalam toilet training, yaitu:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Kondisi fisik merupakan faktor penting dalam melatih kemampuan toilet. Parents dapat melihat apakah anak dapat konsisten tetap kering atau tidak mengompol selama satu jam dengan kondisi anak mendapatkan asupan cairan normal dan bukan saat cuaca hujan. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Kemampuan anak dalam memahami instruksi merupakan faktor lainnya dalam melatih kemampuan toilet. Parents dapat melihat apakah anak dapat memahami instruksi sederhana yang biasanya anak usia 2 tahun dapat pahami seperti “bukalah celanamu!”. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Kemampuan motorik anak untuk mencapai toilet dan kemampuan untuk melepaskan serta menggunakan kembali celana.<br>Yuk parents sebelum melatih anak toilet training, parents dapat mengecek kesiapan anak dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!<br>Apakah anak dapat tetap kering (tidak mengompol) selama durasi 1 jam?<br>Apakah anak dapat berjalan dan duduk di toilet?<br>Apakah anak dapat menurunkan dan menaikan celana kembali?<br>Apakah anak dapat memahami dan mengikuti instruksi sederhana?<br>Jika sebagian besar pertanyaan di atas dijawab dengan “iya”, berarti anak sudah siap untuk toilet training parents. Jika sebagian besar pertanyaan dijawab dengan “tidak”, parents bisa mengajarkan terlebih dahulu kemampuan mana yang belum anak kuasai seperti pada kemampuan mengikuti instruksi, parents dapat mengajarkannya dengan memandu anak secara fisik seperti mengajak anak untuk duduk di toilet ataupun kemampuan motorik seperti berlatih untuk duduk atau berjongkok. </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Penting Mengenalkan Budaya untuk Preschooler?</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2023/01/05/mengapa-penting-mengenalkan-budaya-untuk-preschooler/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2023 13:51:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak usia dini]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah dasar]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=940</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Puteri Tsuraya Alya, S.Psi Mengajarkan tentang dunia tentu mengarah kepada pembelajaran mengenai sekitarnya dan mengarah kembali kepada kehidupan sosialnya dan bagaimana ia bersosialiasi. Mengajarkan dunia tentu tidak hanya sekedar mengenalkan tentang alam sekitar, dunia itu luas dan tidak hanya mengenai tentang kehidupan alam. Namun juga kehidupan dengan sesama manusia. Budaya adalah salah satu bentuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh: Puteri Tsuraya Alya, S.Psi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengajarkan tentang dunia tentu mengarah kepada pembelajaran mengenai sekitarnya dan mengarah kembali kepada kehidupan sosialnya dan bagaimana ia bersosialiasi. Mengajarkan dunia tentu tidak hanya sekedar mengenalkan tentang alam sekitar, dunia itu luas dan tidak hanya mengenai tentang kehidupan alam. Namun juga kehidupan dengan sesama manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Budaya adalah salah satu bentuk dari bagaimana kita mempelajari manusia, karena pada dasarnya dengan mengenalkan Budaya, kita secara tidak langsung mengenalkan kepada anak adanya perbedaan dari dirinya dan dengan orang lain. Anak pada usia 0 &#8211; 6 masih memiliki sifat Egosentris, anak masih berfokus kepada dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka tidak ada salahnya mengenalkan kepada anak mengenai Budaya dari usia dini, dengan harapan ia bisa percaya diri tentang dirinya dan bagaimana ia menerima temannya (dengan meminimalisir ke egosentrisiannya.)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengenalkan Budaya sejak dini kepada anak, terutama Budaya yang kita pegang secara tak langsung mengajarkan anak terhadap Nila dan Norma yang berlaku di masyarakat atau lingkupnya, dari ia mengenali budayanya sendiri ia paham bagaimana ia sebaiknya bersikap dan aturan apa saja yang boleh dan tak boleh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak juga bangga dengan dirinya sendiri dengan mengenal budaya, ini juga bagus dalam membangun Self Esteem-nya untuk kedepannya bila ia mendapatkan dirinya pada lingkungan yang berbeda dari budaya yang ia pegang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, mengenalkan dan mengajarkan Budaya sejak dini tidak ada salahnya, bisa jadi menjadi langkah membuka jendela pengetahuan anak dan juga meningkatkan kesadarannya bahwa budaya yang ia punya adalah ciri khasnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Memperkenalkan Buku Pada Anak Usia Dini</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2022/12/21/bolehkah-memperkenalkan-buku-pada-anak-usia-dini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2022 08:53:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak usia dini]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Homeschooling SEKOLAHKU]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=884</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Pak Tama &#160;&#160;&#160; Anak usia dini sering disebut juga sebagai fase golden age. Yups! Mereka sangat mudah menyerap atau menerima apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan. Singkatnya anak usia dini sangat mudah menerima hal baru. Penelitian menyimpulkan anak yang termasuk usia dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun. Mereka masih memiliki pola pertumbuhan dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><br>Oleh: Pak Tama</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp; Anak usia dini sering disebut juga sebagai fase golden age. Yups! Mereka sangat mudah menyerap atau menerima apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan. Singkatnya anak usia dini sangat mudah menerima hal baru. Penelitian menyimpulkan anak yang termasuk usia dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun. Mereka masih memiliki pola pertumbuhan dalam kognitif, bahasa, sosial, kreatifitas, komunikasi dan fisik.<br>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena kemampuannya yang luar biasa tersebut, sangat penting untuk orang tua membiasakan hal yang baik serta bermanfaat untuk kemampuannya di masa depan. Salah satu kebiasaan yang baik adalah dengan memperkenalkan buku pada anak. Anak usia dini sangat dianjurkan untuk membiasakan dirinya berdampingan dengan buku.<br>Mengenal Kosa Kata<br>Membacakan buku pada anak dapat menambah kosa kata serta meningkatkan kemampuan komunikasinya. Anak yang dibiasakan mendengarkan cerita dan membaca buku akan memiliki lebih banyak kata untuk berkomunikasi dibanding anak yang tidak pernah didengarkan cerita atau membaca buku.<br>Mengembangkan Kemampuan Kognitif<br>Pembiasaan membacakan buku pada anak dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya. Cukup sering kita melihat anak hanya diam saat mendengarkan cerita. Sebenarnya itu adalah saat yang tepat untuk melatih kemampuan berpikirrnya. kita dapat mengajukan pertanyaan tentang nama, warna, bentuk dan bagian cerita. Buatlah aktifitas membaca menjadi menyenangkan.<br>Mengasah Keterampilan Mendengar<br>Salah satu keterampilan yang sangat penting dikuasai oleh anak adalah keterampilan mendengar. Dengan seringnya anak mendengarkan cerita, Ia akan menjadi individu yang dapat mendengarkan saat orang lain berbicara. Kemampuan Ini sangat penting untuk bekalnya dimasa depan.<br>Mempererat Hubungan Orang Tua dan Anak<br>Membaca buku bersama orang tua akan menjadi hal yang sangat menyentuh bagi si anak. Ia akan merasa dicinta, diperhatikan dan membantunya untuk tumbuh cerdas. Membaca Bersama orang tua dapat menumbuhkan keakraban dan akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan bagi si anak dan orang tua.<br>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Orang tua dapat menyesuaikan buku yang cocok untuk anak sesuai usianya. Pilihlah buku yang dapat merangsang sensori, menumbuhkan keingintahuannya, Mengembangkan imajinasinya dan buatlah aktifitas membaca menjadi sangat menyenangkan sehingga anak akan menjadikan membaca aktifitas favoritnya hingga dewasa.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
