<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>anak &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sekolahku.sch.id/tag/anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Aug 2024 13:17:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://sekolahku.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-sekolahku-favicon-32x32.png</url>
	<title>anak &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Membatik menggunakan Tissue</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2023/01/20/membatik-menggunakan-tissue/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2023 14:05:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Video Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=944</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="#LEARNINGWITH KAK SANTOS - Membatik menggunakan tissue #HomeschoolingSEKOLAHKU" width="800" height="450" src="https://www.youtube.com/embed/RMmwWE43w_E?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>6 Teknik Bertanya Keseharian Anak di Sekolah</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2022/12/05/6-teknik-bertanya-keseharian-anak-di-sekolah/</link>
					<comments>https://sekolahku.sch.id/2022/12/05/6-teknik-bertanya-keseharian-anak-di-sekolah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Michael Jordan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2022 23:12:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=871</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Kurniawan Satrio W.,S.Psi Mengirim anak-anak ke sekolah sehingga mereka dapat pengalaman di luar kehidupan mereka di rumah adalah salah satu hal yang mengagumkan dan impian setiap orang tua. Anak-anak tidak hanya mendapat pengalaman belajar tetapi juga bersosial. Mereka merasakan bagaimana menjadi bagian dari budaya sekolah, berteman, berinteraksi dengan guru dan bertumbuh sebagai “manusia&#8221;. Orang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Kurniawan Satrio W.,S.Psi<br><br>Mengirim anak-anak ke sekolah sehingga mereka dapat pengalaman di luar kehidupan mereka di rumah adalah salah satu hal yang mengagumkan dan impian setiap orang tua. Anak-anak tidak hanya mendapat pengalaman belajar tetapi juga bersosial. Mereka merasakan bagaimana menjadi bagian dari budaya sekolah, berteman, berinteraksi dengan guru dan bertumbuh sebagai “manusia&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Orang tua tentu ingin anak mereka memiliki pengalaman atas pilihannya, di sisi lain orang tua juga ingin mendapat informasi sebanyak mungkin tentang aktivitas anak mereka selama jauh dari orang tua. Orang tua ingin tahu kegembiraan yang mereka alami, hal baru yang mereka pelajari, dan kesulitan apa pun yang mungkin mereka hadapi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Intinya, orang tua ingin tahu lebih dalam dari anak-anaknya tentang bagaimana keseharian mereka di sekolah. Tapi, apakah orang tua selalu mendapat jawaban ketika memberikan pertanyaan sederhana seperti “Bagaimana di sekolah?” <br>Ketika orang tua ingin mengetahui informasi tentang anak-anaknya, terkadang anak-anak menjaga kehidupannya dan tidak memberi banyak informasi. Jadi apa yang harus dilakukan orang tua? Bagaimana cara agar orang tua dapat terlibat secara positif dengan anak-anaknya sehingga mereka merasa nyaman untuk membuka diri dan membagikan hal-hal yang baik (dan tidak terlalu baik) tentang keseharian mereka di sekolah? Berikut ini beberapa hal yang harus dikatakan :</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Buat pertanyaan yang spesifik</strong><br>Memberi pertanyaan terbuka seperti “Bagaimana harimu?” dapat membuat mereka bingung. Oleh karena itu beri pertanyaan tentang aktivitas yang mereka lakukan pada hari itu atau emosi yang mereka rasakan akan membantu.<br>Contohnya :<br>Dengan siapa kamu bermain baru-baru ini?<br>Apa yang kamu lakukan selama kelas olahraga?<br>Apa yang kamu suka hari ini di sekolah?<br>Apa hal lucu yang terjadi hari ini?<br>Siapa guru yang kamu sukai/tidak sukai?<br>Apakah ada hal yang ayah/ibu dapat lakukan untuk memberi dukungan padamu hari ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Mulai dengan membicarakan keseharian (orang tua)</strong><br>Anak-anak akan lebih terbuka jika orang tua terbuka pada mereka. Mulai dengan percakapan santai dengan mengatakan bagaimana keseharian berjalan. Orang tua bisa mengatakan kepada anak mereka hal yang sederhana seperti masak kegosongan atau lupa memberi bumbu ke masakan.<br>Semakin banyak yang orang tua katakan ke anak mereka, semakin mereka mengerti bagaimana berbicara keseharian mereka. Seringkali anak-anak yang lebih muda tidak tahu bagaimana membicarakan keseharian mereka. Orang tua lupa bahwa ini merupakan keterampilan yang harus diajarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Tidak bertanya apapun namun terlibat</strong><br>Alih-alih berbicara dan menanyakan segala pertanyaan yang orang tua ingin tahu jawabannya, lebih baik orang tua meluangkan waktu untuk terlibat dengan anak mereka. Tawarkan pelukan atau tos. Luangkan waktu dengan membuat candaan atau tertawa bersama anak jika mereka dalam keadaan ceria. Lakukan hal yang membuat mereka merasa aman dan nyaman. Ketika mereka senang dan tenang, itu akan menjadi waktu yang tepat untuk memulai menanyakan pertanyaan keseharian mereka. Namun orang tua harus mengatur strategi dan dengan lembut masuk ke anak mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Beri pertanyaan terbuka</strong><br>Pertanyaan terbuka seperti “bagaimana harimu” hampir selalu direspon dengan jawaban “baik”, daripada terdengar segala hal OK, itu tidak memberi tahu apapun dan mengakhiri percakapan.<br>Ubah pertanyaan dengan contoh pertanyaan yang bisa dicoba:<br>Apa yang membuatmu tertawa/tersenyum?<br>Apa yang membuatmu sedih?<br>Apa yang bagian favoritmu hari ini?<br>Dengan siapa kamu duduk atau berbincang?<br>Orang tua bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan ini sebagai awalan dan beri pertanyaan lanjutan seiring berjalannya percakapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Bertanya tanpa kontak mata</strong><br>Mungkin terdengar kontradiktif, tetapi menanyai anak tentang keseharian tanpa kontak mata dapat membantu percakapan mengalir. “Kontak mata membuat anak terintimidasi jadi dia menutup diri dan tidak merespon” ucap Varda Meyers Epstein, ahli pola asuh, penulis, dan editor Kars4Kids. Latihan ini dapat membuat interaksi lebih nyaman untuk anak pemalu karena menghilangkan tekanan sosial dari situasi tersebut.<br>Seperti apa contohnya? Ketika mencuci piring dan mereka duduk di meja makan, ketika berjalan bersama atau sedang berkendara. Beberapa bahkan lebih terbuka dan siap melalui pesan teks untuk beberapa alasan.<br>Mencari cara lain untuk memulai percakapan dengan anak adalah intinya. Hindari kontak mata adalah salah satu membuat anak merasa lebih nyaman, khususnya ketika mereka introvert atau enggan berbagi perasaan kepada orang tua.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Mencoba permainan “High Low Buffalo”</strong><br>Permainan ini direkomendasikan oleh Grace Poole, pakar pola asuh dan pendiri Parenting Under Pressure.<br>Cara bermain ini adalah orang-orang berkumpul dan secara bergantian mengungkapkan tentang hari yang indah (high), yang buruk (low) dan buffalo mereka. Buffalo adalah apapun yang mereka anggap menarik atau random yang ingin mereka ungkapkan.<br>Dengan permainan ini, semua orang dapat berpartisipasi, termasuk orang tua dan saudara yang lain. Biasanya, percakapan menjadi lebih baik setelah permainan. Terlebih lagi, bermain secara konsisten dapat menjadi kebiasaan keluarga untuk berbagi perasaan intim dengan orang lain</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Pahamilah anak, karena satu dengan anak lainnya berbeda. Coba dengan beberapa pendekatan diatas. Tunjukan empati dan masuk ke dalam anak-anak.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sekolahku.sch.id/2022/12/05/6-teknik-bertanya-keseharian-anak-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manfaat Membaca Buku Cerita Bersama Anak</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2022/10/10/manfaat-membaca-buku-cerita-bersama-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2022 22:16:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Homeschooling SEKOLAHKU]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=842</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Sukma Putri Utami, S.Psi Kegiatan membaca bersama anak memiliki beberapa manfaat. Setuju atau tidak, Ayah Bunda? Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Yuk, coba refleksikan beberapa penjelasan berikut yang bisa dihubungkan dengan pengalaman nyata di rumah. Sarana Mempererat Hubungan Orang Tua dan AnakKegiatan membaca bersama anak bisa menjadi sarana komunikasi dan mempererat hubungan dengan anak. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh Sukma Putri Utami, S.Psi </strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan membaca bersama anak memiliki beberapa manfaat. Setuju atau tidak, Ayah Bunda? Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Yuk, coba refleksikan beberapa penjelasan berikut yang bisa dihubungkan dengan pengalaman nyata di rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sarana Mempererat Hubungan Orang Tua dan Anak</strong><br>Kegiatan membaca bersama anak bisa menjadi sarana komunikasi dan mempererat hubungan dengan anak. Orang tua hadir secara nyata dan menciptakan komunikasi dua arah yang dekat bersama anak. Kegiatan ini bisa menjadi salah satu sarana quality time antara Ayah Bunda dan anak di rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Membantu Perkembangan Bahasa dan Literasi</strong><br>Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam kegiatan membaca bersama anak memiliki efek positif terhadap perkembangan bahasa dan literasi (Villiger, 2020). Saat membaca bersama orang tua, anak belajar untuk mendengar bunyi kosakata dan memperkaya pembelajaran kosakata baru. Pada anak yang lebih muda atau pra-membaca, mereka akan belajar menghubungkan bunyi yang didengar dengan gambar yang dilihat (Early Childhood Learning and Knowledge Center, 2022).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menciptakan Ruang Diskusi Bersama Anak</strong><br>Orang tua dapat memanfaatkan kegiatan membaca bersama anak untuk menghubungkan isi buku dengan pengalaman nyata di dunia. Pengalaman membaca buku tidak hanya menjadi sarana untuk perkembangan bahasa dan literasi, namun bisa menjadi kegiatan untuk pembelajaran emosi, kemandirian, kemampuan sosial, dan banyak hal lainnya. Jangan bayangkan diskusi berat seperti orang dewasa, ya! Diskusi dapat berbentuk percakapan ringan, disertai candaan, mapun nyanyian  (Opong &amp; Tagle, 2021). Hal yang lebih penting adalah, anak senang dan menikmati kegiatan membaca bersama!</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Membiasakan Budaya Membaca</strong><br>Membaca bersama anak dapat menjadi sarana membangun minat awal atau ketertarikan terhadap kegiatan membaca. Pengalaman positif ketika membaca membuat anak mempersepsi bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan. Ini adalah langkah awal yang baik untuk membangun motivasi membaca anak! (Elisabeth, Ryzandria, Clarissa, Anggita, &amp; Amanda, 2022, halaman 29).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wah, bagaimana dengan pengalaman Ayah Bunda di rumah? Apa kegiatan membaca bersama anak menyenangkan? Ataukah justru banyak tantangan yang dihadapi saat membaca bersama anak? Jika Ayah dan Bunda mengalami kebingungan dan tantangan terkait parenting, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan psikolog dan ahli, ya!</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membangun Rasa Percaya Diri Pada Anak</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2022/09/15/membangun-rasa-percaya-diri-pada-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2022 09:11:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[parenting anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=833</guid>

					<description><![CDATA[Disusun oleh : Siti Purwanti Seiring seorang anak melalui proses kegagalan dan keberhasilan, ia akan belajar tentang kemampuannya sendiri. Pada saat yang sama, ia juga akan belajar tentang konsep diri dari hasil interkasinya dengan orang lain di sekitarnya. Inilah mengapa pola pengasuhan orang tua pun menjadi &#160; penting bagi perkembangan rasa percaya diri anak dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Disusun oleh : Siti Purwanti </p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Seiring seorang anak melalui proses kegagalan dan keberhasilan, ia akan belajar tentang kemampuannya sendiri. Pada saat yang sama, ia juga akan belajar tentang konsep diri dari hasil interkasinya dengan orang lain di sekitarnya. Inilah mengapa pola pengasuhan orang tua pun menjadi &nbsp; penting bagi perkembangan rasa percaya diri anak dan konsep diri yang sehat.<br>Beberapa hal di yang dapat dilakukan orang tua untuk membangun rasa percaya diri pada anak.</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Anak meniru orang tua.<br>Inilah yang membuat orang tua harus memberikan contoh positif untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak. Misalnya, ketika anak melihat Anda tidak berhasil melakukan sesuatu, berujarlah kepadanya , “Wah, sekarang Mama belum bisa potong kayunya, nanti Mama coba lagi ah.”</li><li>Terlibat<br>Libatkan diri Anda sebagai ‘pancingan’. Misalnya, ketika anak Anda ingin bernyanyi di depan kelas. Anda dapat mengajak anak Anda untuk bernyanyi berdua, lalu membiarkan ia bernyanyi sendiri ketika anak Anda sudah asyik menikmati.</li><li>Hargai usaha<br>Sekecil apa pun usaha anak dan apa pun hasilnya, hargailah. Jika ia belum berani dan belum mau bergabung bermain dengan teman &#8211; temannya. tetapi mencoba berinteraksi dengan salah satu temannya, hargailah. Itu adalah proses dari usahanya.</li><li>Komunikasi<br>Selalu sempatkan diri untuk bicara dari hati ke hati dengan anak. Misalnya, dengan mengajaknya menceritakan apa yang dilakukan dan dialaminya.</li><li>Pujian<br>Pujian selalu dapat membuat anak merasa diri dan usahanya dihargai. Berikan pujian dengan tulus.</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber :Buku Parents Guide Growing Up Usia 5-6 Tahun</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahaya Gadget Sebagai Sarana Bermain Utama Untuk Anak</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/12/14/bahaya-gadget-sebagai-sarana-bermain-utama-untuk-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Dec 2021 06:55:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=716</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Kaifa Nurussama, S.Psi Seiring berkembangnya zaman, di era digitalisasi ini, dimana semua hal bergantung pada gadget. Orang-orang menguasai teknologi dengan baik, sistem kerja dan belajar menjadi lebih mudah dengan kemudahan akses internet dan keberadaan gadget. Tetapi selain hal-hal positif tersebut, ada hal yang harus diperhatikan khususnya dampaknya terhadap perkembangan anak. Apakah orangtua sudah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Kaifa Nurussama, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seiring berkembangnya zaman, di era digitalisasi ini, dimana semua hal bergantung pada gadget. Orang-orang menguasai teknologi dengan baik, sistem kerja dan belajar menjadi lebih mudah dengan kemudahan akses internet dan keberadaan gadget. Tetapi selain hal-hal positif tersebut, ada hal yang harus diperhatikan khususnya dampaknya terhadap perkembangan anak. Apakah orangtua sudah memberikan fasilitas gadget dengan tepat?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada kenyataannya banyak orangtua yang memberikan gadget kepada anaknya untuk dijadikan sarana bermain untuk anak. Terdapat survey menunjukkan bahwa sebanyak 52,27% motif orangtua memberikan gadget pada anak adalah sebagai sarana bermain. Dikutip dari artikel centroone (Listyanto,2014) menunjukkan bahwa sebuah penelitian memperoleh data bahwa gadget digunakan oleh anak lebih sebagai alat bermain. Mungkin ada yang beranggapan bahwa memberikan gadget selain untuk mendiamkan anak juga agar anak dapat bermain games yang dapat melatih Problem Solving anak. Nyatanya Problem Solving bisa diajarkan dengan cara lainnya seperti stimulasi bahasa, sentuhan langsung dengan bermain dengan instruksi, dan sikap yang orang tua tanamkan kepada mereka dan tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi berulang kali dalam penanaman kebiasaan memecahkan masalah khususnya dalam tantangan kehidupan sehari-hari. Problem Solving juga bisa diterapkan melalui permainan dalam bentuk gerak dan lagu yang dapat meningkatkan kecerdasan musikal dan kecerdasan kinestetik, sehingga kegiatan seperti ini (mencegah penggunaan gadget yang berlebihan) dapat memainkan peranan penting bagi perkembangan psikomotorik, kemampuan kognitif, dan kemampuan afektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika anak merasa gadget adalah mainan terbaik dibandingkan mainan-mainan lainnya yang ada (mobil-mobilan, boneka, alat masak, mainan tradisional engkle, lompat tali, dsb) dapat menimbulkan adiksi terhadap telepon genggam dan aplikasi game didalamnya. Selain itu sedikit bergerak dan sedikit bersoisalisasi secara langsung dengan orang sekitar juga menjadi salah satu efek jika terlalu lama bermain gadget. Karena sudah asik terpapar oleh game yang ada di gadget anak menjadi nyaman dengan situasi tersebut dan merasa malas untuk melakukan kegiatan lainnya. Padahal masa anak-anak adalah masa dimana tumbuh dan berkembangnya fisik maupun psikis manusia. Dimasa ini anak harus banyak bergerak agar tumbuh kembang anak optimal.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kapan anak layak memegang gadget?</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu diketahui bahwa periode perkembangan anak yang sangat sensitif adalah pada usia 1-5 tahun di sebut The Golden Age. Pada masa ini seluruh aspek perkembangan kecerdasaan, yaitu kecerdasan intelektual, emosi dan spiritual mengalami perkembangan yang luar biasa sehingga yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan selanjutnya sampai dewasa. Ketika anak berada pada&nbsp;masa The Golden Age tersebut, mereka menjadi peniru yang handal, mereka lebih pintar dari yang kita pikir, lebih cerdas dari yang kita lihat, sehingga jangan kita anggap remeh. Jika anak tersebut sudah diberikan gadget sebagai mainan, maka itu akan berpengaruh terhadap proses pemerolehan bahasanya. Bukan hanya efek bahasa, yang lebih mengkhawatirkan adalah gangguan pada perkembangan emosi anak. Mereka akan menjadi pribadi yang tidak sabar dan cepat marah serta sulit mengendalikan emosi, bahkan tidak dapat mengatur emosinya. Usia kelayakan anak dalam memegang gadget adalah pada usia diatas 12 tahun. Menurut KPPPA pun menyatakan bahwa usia yang ideal anak untuk memegang gadget adalah usia 13 tahun dimana anak sudah bijak dalam mempergunakannya (mengetahui baik buruk suatu hal).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi sepertinya agak sulit untuk benar-benar tidak memaparkan gadget pada anak dibawah usia 13 tahun saat ini, karena kurikulum saat ini justru terdapat pengenalan terhadap teknologi, bahkan saat ini pula sudah terdapat sistem pembelajaran daring. Maka dari itu butuh peran yang bijak dari orangtua dalam memberikan gadget pada anak. Kontrol orangtua sangat dibutuhkan dalam penggunaan gadget pada anak. Gadget dapat diberikan dengan pembatasan fungsi sebagai sarana belajar dan dengan kontrol waktu tertentu dari orangtua. Kontrol waktu penggunaan gadget pada anak sangat penting, karena paparan gadget berlebih tidak baik untuk kesehatan mental anak. Menurut Yohana Yembise,&nbsp;para orang tua harus mengontrol anak mereka yang sudah bermain gadget. Sebab, dari memegang gadget seperti handphone (HP) maupun tablet, anak bisa mendapatkan berbagai informasi yang belum tersaring dengan baik.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
