<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>belajar &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sekolahku.sch.id/tag/belajar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Aug 2024 13:17:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://sekolahku.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-sekolahku-favicon-32x32.png</url>
	<title>belajar &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Anak Mulai Bersekolah?</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2023/02/15/kapan-waktu-yang-tepat-untuk-anak-mulai-bersekolah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2023 03:01:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[persiapansekolah]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=965</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Riskya Prima Claranita, S.Psi. Memasuki tahun 2023, tidak sedikit orangtua yang merencanakan si buah hati untuk memulai bersekolah. Namun, ada pula orangtua yang bertanya-tanya kapan sebaiknya waktu yang tepat untuk memulai menyekolahkan anak. Ingin menyekolahkan anak di usia sedini mungkin namun takut jika terlalu cepat dan membuat anak bosan, di sisi lain jika tidak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><br>Oleh: Riskya Prima Claranita, S.Psi.<br><br>Memasuki tahun 2023, tidak sedikit orangtua yang merencanakan si buah hati untuk memulai bersekolah. Namun, ada pula orangtua yang bertanya-tanya kapan sebaiknya waktu yang tepat untuk memulai menyekolahkan anak. Ingin menyekolahkan anak di usia sedini mungkin namun takut jika terlalu cepat dan membuat anak bosan, di sisi lain jika tidak menyekolahkan anak sejak dini khawatir tidak dapat mengoptimalkan masa golden age dengan baik. <br>Untuk menjawab kebingungan ayah dan bunda, berikut ada beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk memutuskan kapan anak mulai bersekolah, apa saja ya pertimbangannya?<br>Usia anak<br>Biasanya memasuki usia 3 tahun, orangtua mulai mempertimbangkan untuk memasukan anak ke sekolah. Meskipun demikian, orangtua perlu memperhatikan kesiapan anak dibandingkan dengan memaksakannya untuk bersekolah di usia tertentu. Tidak masalah jika di usia 3 tahun anak belum siap karena tiap anak memiliki masa perkembangannya, yang terpenting perkembangan anak tidak terlalu jauh dengan milestone perkembangan sesuai usianya. <br><strong>Kemampuan dasar mengurus diri</strong><br>Indikator anak siap masuk sekolah ialah memiliki kemampuan sederhana untuk mandiri mengurus dirinya. Salah satunya ialah kemampuan dalam mengurus diri di toilet seperti mengetahui kapan ingin pergi ke toilet, melepaskan dan menggunakan celana setelah dari toilet. Kemampuan mengurus diri lainnya yang perlu anak miliki ialah menggunakan sepatu dan mencuci tangan. <br><strong>Mengikuti aturan sederhana</strong><br>Dalam sekolah biasanya guru akan memberikan instruksi sederhana seperti meminta anak membersihkan meja, berbaris, duduk di kursi, dan mengerjakan aktivitas bermain sehingga anak memerlukan kemampuan untuk dapat mengikuti aturan-aturan tersebut. Bagaimana jika anak masih sulit mengikuti aturan sederhana?  Eits, tenang ayah dan bunda dapat mulai mengajarkan anak mengikuti aturan dengan memberikan tugas-tugas harian yang mudah mereka lakukan di rumah seperti meminta anak untuk membantu mengambil piring saat jam makannya.<br><strong>Kemampuan bicara anak </strong><br>Meskipun di usia 3 tahun kemampuan bicara ataupun pelafalan anak belum 100% sempurna, namun idealnya orang-orang di sekitarnya telah mampu memahami apa yang mereka katakan. Biasanya, usia prasekolah (3-5 tahun) sudah dapat mengatakan kalimat sederhana dengan 3 sampai 5 kata. Mereka juga dapat menjelaskan sesuatu yang terjadi di sekitar mereka seperti pergi ke taman atau mall. <br><strong>Dapat berpisah dari orangtua</strong><br>Indikator kesiapan anak lainnya ialah anak tidak merasa takut atau cemas saat berpisah dengan orangtuanya. Anak yang merasa takut atau cemas berpisah dari orangtua akan membuat mereka kesulitan mengikuti pembelajaran terutama saat berada di kelas umum. Kunci utama dalam mengajarkan anak untuk dapat berpisah dari orangtua ialah mengembangkan rasa percaya jika orangtua akan kembali berada di sisi anak setelah ia selesai belajar. <br><strong>Kemampuan berinteraksi dengan teman sebaya</strong><br>Kemampuan sosial atau berinteraksi dengan teman sebayanya merupakan indikator kesiapan anak bersekolah karena sebagian waktu mereka akan banyak dihabiskan dengan bersosialisasi dengan murid lainnya atau teman sebayanya. </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membatik menggunakan Tissue</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2023/01/20/membatik-menggunakan-tissue/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2023 14:05:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Video Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=944</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="#LEARNINGWITH KAK SANTOS - Membatik menggunakan tissue #HomeschoolingSEKOLAHKU" width="800" height="450" src="https://www.youtube.com/embed/RMmwWE43w_E?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Penting Mengenalkan Budaya untuk Preschooler?</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2023/01/05/mengapa-penting-mengenalkan-budaya-untuk-preschooler/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2023 13:51:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak usia dini]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah dasar]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=940</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Puteri Tsuraya Alya, S.Psi Mengajarkan tentang dunia tentu mengarah kepada pembelajaran mengenai sekitarnya dan mengarah kembali kepada kehidupan sosialnya dan bagaimana ia bersosialiasi. Mengajarkan dunia tentu tidak hanya sekedar mengenalkan tentang alam sekitar, dunia itu luas dan tidak hanya mengenai tentang kehidupan alam. Namun juga kehidupan dengan sesama manusia. Budaya adalah salah satu bentuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh: Puteri Tsuraya Alya, S.Psi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengajarkan tentang dunia tentu mengarah kepada pembelajaran mengenai sekitarnya dan mengarah kembali kepada kehidupan sosialnya dan bagaimana ia bersosialiasi. Mengajarkan dunia tentu tidak hanya sekedar mengenalkan tentang alam sekitar, dunia itu luas dan tidak hanya mengenai tentang kehidupan alam. Namun juga kehidupan dengan sesama manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Budaya adalah salah satu bentuk dari bagaimana kita mempelajari manusia, karena pada dasarnya dengan mengenalkan Budaya, kita secara tidak langsung mengenalkan kepada anak adanya perbedaan dari dirinya dan dengan orang lain. Anak pada usia 0 &#8211; 6 masih memiliki sifat Egosentris, anak masih berfokus kepada dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka tidak ada salahnya mengenalkan kepada anak mengenai Budaya dari usia dini, dengan harapan ia bisa percaya diri tentang dirinya dan bagaimana ia menerima temannya (dengan meminimalisir ke egosentrisiannya.)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengenalkan Budaya sejak dini kepada anak, terutama Budaya yang kita pegang secara tak langsung mengajarkan anak terhadap Nila dan Norma yang berlaku di masyarakat atau lingkupnya, dari ia mengenali budayanya sendiri ia paham bagaimana ia sebaiknya bersikap dan aturan apa saja yang boleh dan tak boleh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak juga bangga dengan dirinya sendiri dengan mengenal budaya, ini juga bagus dalam membangun Self Esteem-nya untuk kedepannya bila ia mendapatkan dirinya pada lingkungan yang berbeda dari budaya yang ia pegang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, mengenalkan dan mengajarkan Budaya sejak dini tidak ada salahnya, bisa jadi menjadi langkah membuka jendela pengetahuan anak dan juga meningkatkan kesadarannya bahwa budaya yang ia punya adalah ciri khasnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>6 Teknik Bertanya Keseharian Anak di Sekolah</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2022/12/05/6-teknik-bertanya-keseharian-anak-di-sekolah/</link>
					<comments>https://sekolahku.sch.id/2022/12/05/6-teknik-bertanya-keseharian-anak-di-sekolah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Michael Jordan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2022 23:12:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=871</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Kurniawan Satrio W.,S.Psi Mengirim anak-anak ke sekolah sehingga mereka dapat pengalaman di luar kehidupan mereka di rumah adalah salah satu hal yang mengagumkan dan impian setiap orang tua. Anak-anak tidak hanya mendapat pengalaman belajar tetapi juga bersosial. Mereka merasakan bagaimana menjadi bagian dari budaya sekolah, berteman, berinteraksi dengan guru dan bertumbuh sebagai “manusia&#8221;. Orang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Kurniawan Satrio W.,S.Psi<br><br>Mengirim anak-anak ke sekolah sehingga mereka dapat pengalaman di luar kehidupan mereka di rumah adalah salah satu hal yang mengagumkan dan impian setiap orang tua. Anak-anak tidak hanya mendapat pengalaman belajar tetapi juga bersosial. Mereka merasakan bagaimana menjadi bagian dari budaya sekolah, berteman, berinteraksi dengan guru dan bertumbuh sebagai “manusia&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Orang tua tentu ingin anak mereka memiliki pengalaman atas pilihannya, di sisi lain orang tua juga ingin mendapat informasi sebanyak mungkin tentang aktivitas anak mereka selama jauh dari orang tua. Orang tua ingin tahu kegembiraan yang mereka alami, hal baru yang mereka pelajari, dan kesulitan apa pun yang mungkin mereka hadapi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Intinya, orang tua ingin tahu lebih dalam dari anak-anaknya tentang bagaimana keseharian mereka di sekolah. Tapi, apakah orang tua selalu mendapat jawaban ketika memberikan pertanyaan sederhana seperti “Bagaimana di sekolah?” <br>Ketika orang tua ingin mengetahui informasi tentang anak-anaknya, terkadang anak-anak menjaga kehidupannya dan tidak memberi banyak informasi. Jadi apa yang harus dilakukan orang tua? Bagaimana cara agar orang tua dapat terlibat secara positif dengan anak-anaknya sehingga mereka merasa nyaman untuk membuka diri dan membagikan hal-hal yang baik (dan tidak terlalu baik) tentang keseharian mereka di sekolah? Berikut ini beberapa hal yang harus dikatakan :</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Buat pertanyaan yang spesifik</strong><br>Memberi pertanyaan terbuka seperti “Bagaimana harimu?” dapat membuat mereka bingung. Oleh karena itu beri pertanyaan tentang aktivitas yang mereka lakukan pada hari itu atau emosi yang mereka rasakan akan membantu.<br>Contohnya :<br>Dengan siapa kamu bermain baru-baru ini?<br>Apa yang kamu lakukan selama kelas olahraga?<br>Apa yang kamu suka hari ini di sekolah?<br>Apa hal lucu yang terjadi hari ini?<br>Siapa guru yang kamu sukai/tidak sukai?<br>Apakah ada hal yang ayah/ibu dapat lakukan untuk memberi dukungan padamu hari ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Mulai dengan membicarakan keseharian (orang tua)</strong><br>Anak-anak akan lebih terbuka jika orang tua terbuka pada mereka. Mulai dengan percakapan santai dengan mengatakan bagaimana keseharian berjalan. Orang tua bisa mengatakan kepada anak mereka hal yang sederhana seperti masak kegosongan atau lupa memberi bumbu ke masakan.<br>Semakin banyak yang orang tua katakan ke anak mereka, semakin mereka mengerti bagaimana berbicara keseharian mereka. Seringkali anak-anak yang lebih muda tidak tahu bagaimana membicarakan keseharian mereka. Orang tua lupa bahwa ini merupakan keterampilan yang harus diajarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Tidak bertanya apapun namun terlibat</strong><br>Alih-alih berbicara dan menanyakan segala pertanyaan yang orang tua ingin tahu jawabannya, lebih baik orang tua meluangkan waktu untuk terlibat dengan anak mereka. Tawarkan pelukan atau tos. Luangkan waktu dengan membuat candaan atau tertawa bersama anak jika mereka dalam keadaan ceria. Lakukan hal yang membuat mereka merasa aman dan nyaman. Ketika mereka senang dan tenang, itu akan menjadi waktu yang tepat untuk memulai menanyakan pertanyaan keseharian mereka. Namun orang tua harus mengatur strategi dan dengan lembut masuk ke anak mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Beri pertanyaan terbuka</strong><br>Pertanyaan terbuka seperti “bagaimana harimu” hampir selalu direspon dengan jawaban “baik”, daripada terdengar segala hal OK, itu tidak memberi tahu apapun dan mengakhiri percakapan.<br>Ubah pertanyaan dengan contoh pertanyaan yang bisa dicoba:<br>Apa yang membuatmu tertawa/tersenyum?<br>Apa yang membuatmu sedih?<br>Apa yang bagian favoritmu hari ini?<br>Dengan siapa kamu duduk atau berbincang?<br>Orang tua bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan ini sebagai awalan dan beri pertanyaan lanjutan seiring berjalannya percakapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Bertanya tanpa kontak mata</strong><br>Mungkin terdengar kontradiktif, tetapi menanyai anak tentang keseharian tanpa kontak mata dapat membantu percakapan mengalir. “Kontak mata membuat anak terintimidasi jadi dia menutup diri dan tidak merespon” ucap Varda Meyers Epstein, ahli pola asuh, penulis, dan editor Kars4Kids. Latihan ini dapat membuat interaksi lebih nyaman untuk anak pemalu karena menghilangkan tekanan sosial dari situasi tersebut.<br>Seperti apa contohnya? Ketika mencuci piring dan mereka duduk di meja makan, ketika berjalan bersama atau sedang berkendara. Beberapa bahkan lebih terbuka dan siap melalui pesan teks untuk beberapa alasan.<br>Mencari cara lain untuk memulai percakapan dengan anak adalah intinya. Hindari kontak mata adalah salah satu membuat anak merasa lebih nyaman, khususnya ketika mereka introvert atau enggan berbagi perasaan kepada orang tua.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br><strong>Mencoba permainan “High Low Buffalo”</strong><br>Permainan ini direkomendasikan oleh Grace Poole, pakar pola asuh dan pendiri Parenting Under Pressure.<br>Cara bermain ini adalah orang-orang berkumpul dan secara bergantian mengungkapkan tentang hari yang indah (high), yang buruk (low) dan buffalo mereka. Buffalo adalah apapun yang mereka anggap menarik atau random yang ingin mereka ungkapkan.<br>Dengan permainan ini, semua orang dapat berpartisipasi, termasuk orang tua dan saudara yang lain. Biasanya, percakapan menjadi lebih baik setelah permainan. Terlebih lagi, bermain secara konsisten dapat menjadi kebiasaan keluarga untuk berbagi perasaan intim dengan orang lain</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Pahamilah anak, karena satu dengan anak lainnya berbeda. Coba dengan beberapa pendekatan diatas. Tunjukan empati dan masuk ke dalam anak-anak.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sekolahku.sch.id/2022/12/05/6-teknik-bertanya-keseharian-anak-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>4 Hal Dasar yang Orang Tua Perlu Tahu Jika Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2022/08/19/4-hal-dasar-yang-orang-tua-perlu-tahu-jika-memiliki-anak-berkebutuhan-khusus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2022 11:03:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=807</guid>

					<description><![CDATA[Dalam sebuah keluarga, memiliki seorang anak adalah satu anugerah dari sang pencipta. Ada rasa kekurangan bila tidak memiliki seorang anak, namun apa jadinya bila anak yang di idamkan ternyata besar dan tumbuh hampir tidak sama seperti pola perkembangan yang seharusnya dilewati. Pola perkembangan yang tidak sesuai seperti ada keterlambatan bicara atau anak memiliki kebutuhan khusus. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dalam sebuah keluarga, memiliki seorang anak adalah satu anugerah dari sang pencipta. Ada rasa kekurangan bila tidak memiliki seorang anak, namun apa jadinya bila anak yang di idamkan ternyata besar dan tumbuh hampir tidak sama seperti pola perkembangan yang seharusnya dilewati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola perkembangan yang tidak sesuai seperti ada keterlambatan bicara atau anak memiliki kebutuhan khusus. Contohnya anak menyandang autisme atau sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK). Sebagai orang tua tentu harus siap dan menerimanya dengan lapang dada. Penerimaan terhadap anak adalah modal dasar agar dapat memberikan pola asuh yang sesuai dengan kebutuhannya. Mengasuh adalah bagian dari kewaiban bagi orang tua namun ketika memiliki anak dengan kebutuhan khusus. tentunya menjadikan kegiatan mengasuh terlihat lebih ekstra.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penerapan pola asuh dengan psikologi positif adalah salah satu cara bagi orang tua agar dapat memberikan yang terbaik bagi anak. Dengan sudut pandang bahwa seseorang dapat menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri dan menumbuhkan sifat optimis pada anak. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut adalah 4 hal penting dalam mengasuh anak dengan psikologi positif yang dapat diterapkan oleh orang tua.</p>



<ol class="wp-block-list"><li><strong>Memperlakukan anak seperti manusia seutuhnya</strong></li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Penerimaan terhadap anak adalah sebuah dasar untuk dapat menerapkan pola asuh yang tepat.&nbsp; Perasaan Diterima diakui dan di anggap ada oleh orang tua akan dialami dan di rasa lebih peka bagi anak. Anak-anak lahir dengan keunikanya masing &#8211; masing dan itu menjadikan sisi positif yang bisa dilihat bagi orang tua dalam menerapkan pola asuh terhadap anak.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlakuan adil dan bijak oleh orang tua pada anak dan tidak adanya perbedaan kasih sayang antar anggota keluarga yang lain juga perlu di perhatikan. Nilai-nilai dalam berkehidupan, aturan sosial dan kemampuan untuk hidup berkelompok atau individu tetap harus diberikan kepada anak, sekalipun mereka adalah anak dengan kebutuhan khusus.</p>



<ol class="wp-block-list" start="2"><li><strong>Berikan pendidikan sesuai kebutuhannya</strong></li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Pendidikan yang tepat sesuai kebutuhan anak adalah kunci yang orang tua perlu sadari bahwa anak yang terlahir dengan kebutuhan khusus memiliki kemampuan dan potensi yang juga perlu di gali dan di optimasi. Cara yang tepat digunakan bagi orang tua adalah memberikan kesempatan belajar dan hak yang sama dalam mendapat pendidikan yang sesuai dengan kebutuannya</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berkonsultasi dengan ahli sesuai bidang juga merupakan bentuk usaha yang nyata bagi orang tua, penerapan dari hasil konsultasi juga adalah bentuk komitmen orang tua terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.</p>



<ol class="wp-block-list" start="3"><li><strong>Pendekatan dengan Anak</strong></li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai orang tua, kedekatan dalam emosional adalah bagian yang tak terpisakan pada anak. Melakukan pengasuhan dengan psikologi positif didukung dengan niat untuk selalu dekat dengan anak dan memberikan kebutuhannya, akan memberikan rasa diterima dan percaya diri bagi anak.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebiasaan orang tua sehari-hari perlu diperhatikan agar dapat menadi contoh bagi anak selain itu juga yang tidak kalah penting adalah keberadaan pengasuh. Ketika kedua orang tua memang sudah sibuk dengan aktivitas diluar keluarga, maka solusi bagi mereka adalah pengasuh. Namun perlu disadari dan dipahami betul bahwa keberadaan pengasuh bukan solusi utama bagi orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus.&nbsp;</p>



<ol class="wp-block-list" start="4"><li> <strong>Optimis</strong></li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, berhentilah berfikir dan beranggapan bahwa anak tidak bisa melakukan apa-apa, karena itu adalah sebuah bentuk energi negatif yang akan dibawa seumur hidup dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus. Hasil akhir yang akan diterima adalah menjadi orang tua yang pesimis, depresi dan kalut dengan setiap perilaku anak. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasa kecewa yang mendalam ini bahkan tidak memberikan efek perkembangan apapun pada anak. Untuk itu optimis adalah hal yang penting secara psikologi dalam membangun rasa tanggung jawab terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mendidik anak berkebutuhan khusus memang penuh tantangan. Tapi bukan berarti hal ini bisa jadi alasan untuk menyerah, ya. Sejatinya anak adalah anugerah dari tuhan, yang harus kita jaga dan rawat dengan baik<strong>.</strong><em> </em><strong><em>Special Children or Special Parents</em>.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Penulis : Dory Agustia Rantawi S.Pd</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
