<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>emosi anak &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sekolahku.sch.id/tag/emosi-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Jan 2023 12:07:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://sekolahku.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-sekolahku-favicon-32x32.png</url>
	<title>emosi anak &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Memahami Mengapa Anak Sulit Mengelola Emosinya</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/11/03/memahami-mengapa-anak-sulit-mengelola-emosinya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2021 08:20:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[emosi anak]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[sulit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=674</guid>

					<description><![CDATA[Penulis : Afifah Nurul Karimah, S.Psi Bukan hal yang aneh ketika anak-anak prasekolah tiba-tiba menangis ketika ada hal yang mengganggunya, seperti misalnya saat mereka menggambar dan hasilnya jelek. Namun, kebanyakan anak usia 10 tahun ke atas sudah jarang memunculkan perilaku tersebut. Di usia ini, biasanya mereka lebih bisa mengatur emosi mereka. Sayangnya, beberapa anak, atau [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penulis : Afifah Nurul Karimah, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan hal yang aneh ketika anak-anak prasekolah tiba-tiba menangis ketika ada hal yang mengganggunya, seperti misalnya saat mereka menggambar dan hasilnya jelek. Namun, kebanyakan anak usia 10 tahun ke atas sudah jarang memunculkan perilaku tersebut. Di usia ini, biasanya mereka lebih bisa mengatur emosi mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, beberapa anak, atau mungkin semakin banyak anak yang mengalami tantangan cukup signifikan dalam mengelola emosi mereka, bahkan seiring bertambahnya usia mereka. Mereka mungkin masih memiliki ledakan kemarahan atau menjadi sangat marah ketika terjadi kesalahan atau hal yang tidak mereka sukai, atau menjadi mengalami suasana hati yang buruk terus menerus. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tantangan-tantangan ini terkadang bisa menjadi masalah yang berdampak jangka panjang di masa dewasa sang anak. Stres dan kecemasan juga bisa berperan. Tetapi penyebab umum anak mengalami kesulitan dalam memanajemen emosinya adalah karena kurangnya pengendalian diri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak-anak yang kesulitan mengelola emosi tidak hanya bergumul dengan emosi negatif. Mereka juga bisa terjebak dalam perasaan gembira yang berlebihan, beberapa terlalu bersemangat terhadap hal khusus tertentu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana ciri anak yang kesulitan dalam mengelola emosi?</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Cepat mengalami frustrasi atau mudah menyerah</li><li>Khawatir terlalu berlebihan terhadap hal-hal yang kecil/tidak penting</li><li>Sering merasa disakiti atau disalahpahmi/merasa sebagai korban</li><li>Memiliki kesulitan melepaskan hal-hal yang membuat mereka kesal</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa itu terjadi?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Anak-anak mengalami kesulitan dalam mengeloma emosi karena beragam alasan. Salah satunya adalah adanya masalah kesehatan mental yang belum stabil pada anak tersebut, terlebih pada anak-anak yang mengalami trauma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, pada anak-anak yang berkebutuhan khusus, sangat umum bagi anak-anak dengan ADHD mengalami kesulitan mengelola emosi. ADHD berkaitan juga dengan adanya masalah dengan fungsi eksekutif di sistem otak mereka, fungsi eksekutif ini berperan dalam keterampilan mental yang mencakup pengendalian diri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak anak dengan ADHD menjadi lebih baik dalam mengelola emosi saat mereka berkembang dengan didukung intervensi yang baik dan intensif. Tetapi, ADHD adalah kondisi seumur hidup, dan beberapa kasus pada anak dengan ADHD terus mengalami masalah dalam pengelolaan emosi hingga remaja dan dewasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika anak nampak mengalami kesulitan dalam pengelolaan emosi, saat emosi nya muncul dan sulit diregulasi, maka salah satu peran pendidik yang bisa dilakukan bisa dengan melabel emosi yang muncul pada anak, memvalidasi emosi tersebut seperti &#8216;kamu tampaknya sangat sedih&#8217;, dan jangan menunjukkan atau bereaksi terhadap emosi yang muncul secara spontan, misalnya ketika anak berteriak karena kesal, pendidik tidak seharusnya mengimitasi ekspresi yang sama (contoh: nada suara juga ikut tinggi), tetapi tetaplah tenang dan berbicaralah dengan nada yang datar sekaligus menenangkan diri mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Referensi :</p>



<p class="wp-block-paragraph">www.understood.org </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manfaat Mengenalkan Buku Harian pada Anak</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/08/09/manfaat-mengenalkan-buku-harian-pada-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Aug 2021 07:41:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[buku harian]]></category>
		<category><![CDATA[diary]]></category>
		<category><![CDATA[emosi anak]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[tips anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=613</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Lidya Fitriani, S.Psi Menulis buku harian atau jurnal dapat menjadi media untuk melatih kemampuan anak dalam mengekspresikan segala yang anak alami secara verbal. Terkadang anak cukup kesulitan dalam mengungkapkan pikiran, isi hati, maupun perasaannya yang tentunya tidak akan baik apabila hanya dipendam saja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak kesulitan untuk berekspresi, salah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Lidya Fitriani, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menulis buku harian atau jurnal dapat menjadi media untuk melatih kemampuan anak dalam mengekspresikan segala yang anak alami secara verbal. Terkadang anak cukup kesulitan dalam mengungkapkan pikiran, isi hati, maupun perasaannya yang tentunya tidak akan baik apabila hanya dipendam saja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak kesulitan untuk berekspresi, salah satunya adalah karena berada pada situasi yang tidak aman maupun tidak nyaman. Hal inilah yang perlu diperhatikan pula bagi Ayah dan Bunda, yaitu memberikan ruang bagi anak untuk mencurahkan segala yang anak alami pada buku hariannya dan tetap menjaga privasi dengan tidak membacanya tanpa seizin anak, karena hal itu merupakan hal yang cukup personal baginya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konten atau isi yang dapat dituliskan pada jurnal atau buku harian beragam macamnya, diantaranya yaitu menuliskan kegiatan sehari-hari, pikiran, perasaan, hal yang dapat disyukuri, ide, kegiatan yang ingin dilakukan, dan juga mimpi. Tentunya selain yang telah disebutkan, masih banyak lagi hal-hal yang dapat dituliskan pada buku harian. Anak juga dapat dibebaskan untuk berkreasi dan bersenang-senang dengan buku hariannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menulis buku harian memiliki berbagai manfaat bagi anak, diantaranya adalah:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Meningkatkan emosional intelegensi</li><li>Dapat membantu anak untuk mengeksplorasi serta mengidentifikasi emosi yang mereka rasakan&nbsp;&nbsp;&nbsp;</li><li>Membantu anak untuk memproses emosi-emosi negatif seperti marah, sedih, menyesal, dan emosi sulit lainnya</li><li>Dapat melacak emosi yang anak rasakan</li><li>Dapat melihat sisi baik maupun buruk dari pengalaman yang anak alami</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wagner U, Galli L, Schott BH, et al. Beautiful friendship: Social sharing of emotions improves subjective feelings and activates the neural reward circuitry. Soc Cogn Affect Neurosci. 2015;10(6):801-8.&nbsp; doi:10.1093/scan/nsu121</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hall J. Friendship standards: The dimensions of ideal expectations . Journal of Social and Personal Relationships. 2012;29(7): 884-907. doi:10.1177/0265407512448274</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
