<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keterampilan sosial &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sekolahku.sch.id/tag/keterampilan-sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 May 2024 06:45:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://sekolahku.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-sekolahku-favicon-32x32.png</url>
	<title>keterampilan sosial &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Keterampilan Sosial Pada Anak Berkebutuhan Khusus</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2024/05/21/keterampilan-sosial-pada-anak-berkebutuhan-khusus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Homeschooling Sekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 May 2024 06:40:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[keterampilan sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=1145</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Luthfi Konsep Keterampilan Sosial Terdapat berbagai macam definisi mengenai keterampilan sosial. Libet dan Lewinston (Cartledge &#38; Milburn, 1992, Hlm. 7) mengemukakan bahwa “Social skill as a complex ability both to emit behaviors that are positively or negatively reinforced, and not to emit behaviors that are punished or extinguished by other ”Keterampilan sosial merupakan kemampuan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh: Luthfi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Konsep Keterampilan Sosial</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Terdapat berbagai macam definisi mengenai keterampilan sosial. Libet dan Lewinston (Cartledge &amp; Milburn, 1992, Hlm. 7) mengemukakan bahwa “<em>Social skill as a complex ability both to emit behaviors that are positively or negatively reinforced, and not to emit behaviors that are punished or extinguished by other</em> ”Keterampilan sosial merupakan kemampuan yang kompleks untuk menunjukkan perilaku yang baik dinilai secara positif atau negatif oleh lingkungan, dan jika perilaku itu tidak baik akan diberikan hukuman oleh lingkungan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Combs &amp; Slaby (dalam Cartledge &amp; Milburn, 1992, hlm. 7) menjelaskan bahwa “<em>The social skill is the ability to interact with others in a given social context is specific ways that are socially acceptable or valued at the same time persobality beneficial, manually beneficial</em>”<strong> </strong>keterampilan sosial merupakan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungan sosial dengan cara-cara khusus yang dapat diterima oleh lingkungan dan pada saat bersamaan dapat menguntungkan individu atau bersifat saling menguntungkan atau menguntungkan orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wibowo (2007, hlm. 44-45) mengemukan bahwa keterampilan sosial adalah kemampuan menengani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain serta kecermatan membaca situasi dan jaringan sosial; berinteraksi dengan lancar serta menggunakan keterampilan-keterampilan tersebut untuk mempengaruhi,&nbsp; memimpin, mengatur, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan dan untuk bekerja sama dalam tim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan definisi yang disampaikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keterampilan sosial merupakan suatu kemampuan yang dipelajari&nbsp; dan dimiliki oleh individu untuk dapat memunculkan perilaku yang spesifik dalam situasi tertentu dengan tujuan agar dapat mencapai dan melakukan tujuan interaksi sosial dengan baik, sehingga memberikan kenyamanan bagi orang yang berada di sekitarnya.&nbsp;</p>



<ol class="wp-block-list" start="2">
<li> <strong>Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Keterampilan Sosial</strong></li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keterampilan sosial pada siswa, Muzaiyini (2013, hlm. 2) menjelaskan faktor yang mempengaruhi di antaranya adalah “kondisi anak, interaksi anak dengan lingkungan, usia anak, jenis kelamin, keadaan sosial ekonomi, pendidikan orang tua, jumlah saudara, struktur keluarga, dan pekerjaan”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara menurut Ormrod (2008, hlm. 144-146) terdapat beberapa perbedaan yang mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial pada siswa di antaranya adalah:&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">1) &nbsp; Perbedaan-perbedaan budaya dan etnik&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa kelompok etnik (termasuk banyak kelompok etnik Asia dan Amerika Selatan) menempatkan nilai kesetiaan dan perilaku prososial lebih tinggi dibandingkan kelompok-kelompok etnik lainnya. Dan beberapa kelompok etnik menekankan pentingnya sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain (misalnya, “Tolong diam supaya saudaramu bisa belajar”), sedangkan kelompok etnik lainnya menekankan pentingnya toleransi terhadap perilaku yang tidak tepat (misalnya “cobalah untuk tidak merasa terganggu oleh radio saudaramu ketika kamu belajar”).</p>



<p class="wp-block-paragraph">2) &nbsp; Perbedaan-perbedaan jender</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Maccoby (Ormrod, 2008, 145) menjelaskan bahwa “anak laki-laki cenderung bergaul dalam kelompok besar sedangkan anak perempuan cenderung untuk menyukai kelompok yang lebih kecil dan intim, bersama sahabat-sahabat dekatnya”. Secara rata-rata, dibandingkan anak laki-laki, anak perempuan lebih dominan memiliki perasaan bersalah, malu, dan empati. Sementara anak laki-laki cenderung melakukan agresi fisik sementara anak perempuan lebih melakukan agresi relasional, seperti merusak hubungan pertemanan dan menjelek-jelekkan reputasi orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">3) &nbsp; Perbedaan-perbedaan sosio ekonomi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara khusus, anak-anak dan remaja yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah seringkali mengalami tantangan-tantangan tersebut. Barangkali, sebagai akibat dari tantangan semacam itu anak-anak dan remaja memiliki hubungan interpersonal dan perilaku yang rendah. Namun tidak semua seperti itu, ada pula anak dan remaja yang tinggal di lingkungan keluarga yang berpenghasilan rendah memiliki konsep diri yang positif, hubungan interpersonal yang baik dan standar-standar moral yang kuat.</p>



<ol class="wp-block-list" start="3">
<li><strong>Indikator Keterampilan Sosial</strong></li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Keterampilan sosial merupakan dasar dari hubungan sosial yang akan siswa aplikasikan dalam bermasyarakat. Menurut&nbsp; Caldarella dan Merrel (1997, hlm.264)&nbsp; terdapat lima elemen keterampilan sosial yaitu :</p>



<p class="wp-block-paragraph">1) <em>Peer Relationship Skill</em>; Keterampilan sosial yang berhubungan dengan teman sebaya</p>



<p class="wp-block-paragraph">2)&nbsp; <em>Self Management Skills</em>;<strong> </strong>Keterampilan yang berhubungan diri sendiri&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">3) <em>Akademic Skills</em>;<strong> </strong>Keterampilan yang berhubungan dengan kesuksesan akademik&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">4) <em>Compliance Skills</em>; Keterampilan yang berhubungan dengan kemampuan anak dalam memenuhi permintaan orang lain&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">5)&nbsp; <em>Asertion Skills</em>; Keterampilan Interpersonal&nbsp;</p>



<ol class="wp-block-list" start="4">
<li><strong>Strategi Dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial</strong></li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Anak berkebutuhan khusus pada umumnya mengalami kesulitan dalam hal penyesuaian sosial dengan lingkungan sekitar. Perlu adanya dorongan dari orang sekitar yang bisa memotivasi siswa untuk bisa mengembangkan keterampilan sosial yang dimiliki pada diri siswa tersebut. Menurut Ormrod (2008, hlm. 128-129) terdapat beberapa strategi yang dilakukan untuk mengembangkan keterampilan sosial di antaranya adalah :</p>



<p class="wp-block-paragraph">1) Sediakanlah banyak kesempatan yang memungkinkan terjadinya interaksi dan kerjasama sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">2) &nbsp; Bantulah siswa menafsirkan situasi-situasi sosial secara akurat dan produktif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">3) Ajarkanlah keterampilan-keterampilan sosial yang spesifik, sediakanlah kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkannya, dan berikanlah umpan balik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">4)   Tunjukkan dan pujilah perilaku-perilaku yang sesuai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">5) &nbsp; Tetapkan dan tegakkan aturan-aturan yang tegas mengenai cara berperilaku.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sumber:&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Cartledge, G., Milburn, J, F. (1992). <em>Teaching Social Skill to Children</em>. New York. Perganon.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wibowo, H. (2007). <em>Fortune Favors The Ready : Keberuntungan Berpihak Kepada Orang-Orang Yang Siap</em>. Bandung : Oase Mata Air.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kurniati, E. (2016). <em>Permainan Tradisional dan Perannya dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak. </em>Bandung: Prenamedia Group&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mencegah Tantrum pada Anak Autisme Ketika Berpergian dengan Social Story</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/08/06/mencegah-tantrum-pada-anak-autisme-ketika-berpergian-dengan-social-story/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Aug 2021 03:32:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[abk]]></category>
		<category><![CDATA[autisme]]></category>
		<category><![CDATA[keterampilan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[social story]]></category>
		<category><![CDATA[special needs children]]></category>
		<category><![CDATA[special needs education]]></category>
		<category><![CDATA[tantrum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=611</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Muhamad Santoso, M.M. Social story&#160;merupakan cerita pendek yang dapat digunakan untuk membantu penderita autisme dalam menafsirkan dan memahami situasi sosial serta dalam menentukan suatu respon dengan tepat dalam gaya dan format yang ditetapkan secara khusus (Gray, 1997). Social story&#160;dapat berupa tulisan ataupun visual yang dapat menggambarkan berbagai interaksi sosial, situasi, keterampilan, konsep serta [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Penyusun : Muhamad Santoso, M.M.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Social story</em>&nbsp;merupakan cerita pendek yang dapat digunakan untuk membantu penderita autisme dalam menafsirkan dan memahami situasi sosial serta dalam menentukan suatu respon dengan tepat dalam gaya dan format yang ditetapkan secara khusus (Gray, 1997). <em>Social story</em>&nbsp;dapat berupa tulisan ataupun visual yang dapat menggambarkan berbagai interaksi sosial, situasi, keterampilan, konsep serta perilaku yang umum pada masyarakat dengan tujuan berbagi informasi sosial yang akurat, meyakinkan dan mudah dimengerti oleh anak penderita autisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut ini cara pembuatan <em>social story</em>&nbsp;sebelum melakukan perjalanan :</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Menentukan tempat yang akan dikunjungi</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum melakukan perjalanan hendaknya memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada anak tentang tempat/lokasi yang akan dikunjungi. Tujuannya agar anak tidak merasa bingung akan diajak pergi kemana.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Toilet training</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum berpergian sebaiknya anak dibiasakan untuk toilet training terlebih dahulu agar sepanjang perjalanan anak akan merasa nyaman tanpa harus menahan untuk buang air kecil/besar.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Alat transportasi apa yang akan digunakan untuk pergi ke lokasi tersebut</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Berikan penjelasan kepada anak, ketika pergi ke tempat/lokasi tersebut menggunakan alat transportasi apa saja.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Dengan siapa saja anak tersebut akan pergi</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Berikan penjelasan kepada anak, nanti akan pergi dengan siapa saja, misalkan dengan ayah, ibu, adik dan kakaknya.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Ketika sampai di tempat tujuan, tempat apa saja yang akan dikunjungi</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Berikan penjelasan kepada anak ketika sampai di tempat tujuan akan melihat apa saja, contoh ketika pergi ke kebun binatang kita akan melihat berbagai jenis binatang dan setelah selesai melihat binatang kita akan melanjutkan ketempat lain misalnya ke restoran untuk makan siang.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Kembali pulang kerumah</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah selesai semuanya berikan penjelasan kembali kepada anak nanti akan pulang kerumah dengan menggunakan alat transportasi apa saja.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Diberikan catatan</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhir <em>social story</em>&nbsp;berikan catatan seperti, “jika selama perjalanan marah-marah atau tidak tertib kita akan kembali pulang kerumah dan tidak melanjutkan perjalanan”. Tujuannya agar anak memahami selama perjalanan tidak marah-marah dan tetap tertib.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Membekali Kemampuan Menjaga Keamanan Diri Pada Special Need Students</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/04/20/pentingnya-membekali-kemampuan-menjaga-keamanan-diri-pada-special-need-students/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2021 03:36:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Homeschooling SEKOLAHKU]]></category>
		<category><![CDATA[keterampilan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[siswa berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=507</guid>

					<description><![CDATA[Selain difokuskan pada peningkatan kemampuan akademik, kegiatan pembelajaran pada special need students juga perlu terintergrasi dengan aspek sosial dan emosi yang bertujuan untuk mengembangkan kemandirian dalam menjaga keamanan diri. Orangtua, guru serta orang terdekat siswa perlu saling bekerja sama dalam memberikan pengarahan dengan cara yang mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan usia dan keunikannya. Berikut [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Selain difokuskan pada peningkatan kemampuan akademik, kegiatan pembelajaran pada <em>special need students </em>juga perlu terintergrasi dengan aspek sosial dan emosi yang bertujuan untuk mengembangkan kemandirian dalam menjaga keamanan diri. Orangtua, guru serta orang terdekat siswa perlu saling bekerja sama dalam memberikan pengarahan dengan cara yang mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan usia dan keunikannya. Berikut beberapa hal yang dapat dipertimbangkan dalam membekali siswa cara menjaga keamanan diri</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Menyusun panduan lengkap terkait keamanan pribadi</strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Panduan yang jelas tentang bagaimana menghadapi situasi tertentu akan membantu siswa memahami tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, seperti dengan menyusun panduan aman menggunakan kendaraan umum, batasan dalam pertemanan, menjaga area privasi tubuh, saat teman atau orang asing bertamu di rumah serta apa saja yang termasuk perilaku berisiko. Sebagai contoh, berikut beberapa panduan yang dapat orangtuasusun untuk mempermudah anak menerapkan kewaspadaannya saat berada di kendaraan umum:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Menjaga barang-barang berharga dengan meletakkan tas di bagian depan</li><li>Memperhatikan batasan jarak dengan penumpang lain</li><li>Jika membutuhkan bantuan informasi, bisa tanyakan pada petugas yang berjaga</li><li>Hindari berbicara dengan orang asing</li></ol>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Bantu siswa membedakan orang yang aman dan tidak aman</strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa latihan dan pengarahan, <em>special need students</em> kesulitan memahami isyarat sosial baik dalam bentuk verbal atau non-verbal yang diisyaratkan melalui tubuh, gerakan, suara dan wajah. Bahkan, memungkinkan juga mereka kesulitan memahami saat ada seseorang berbohong, memanfaatkan atau mengarahkan dirinya pada perilaku beresiko. Seiring perkembangan aspek sosialnya, siswa mungkin akan memiliki teman-teman baru dimana ia merasa nyaman. Namun, tidak semua proses pertemanan yang dibangun oleh siswa akan berhasil. Sehingga penting untuk selalu mengingatkan siswa siapa saja orang-orang yang aman untuk dirinya, seperti: orangtua, guru dan teman-teman yang sudah dikenal baik oleh orangtua.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Menumbuhkan kepercayaan (<em>trust)</em> dan komunikasi positif</strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Orangtua adalah tempat teraman bagi siswa untuk mendapatkan pertolongan dan perlindungan. Namun, tidak menutup kemungkinan beberapa siswa mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan orangtua. Membangun <em>tr</em>ust dan komunikasi positif dapat mendorong siswa untuk berani bercerita.T<em>rust</em> bisa ditumbuhkan misalnya dengan memberikan tanggung jawab pada siswa, menanamkan pentingnya kejujuran namun juga diiringi dengan toleransi.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Menumbuhkan kewaspadaan bukan rasa takut</strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Orangtua atau guru mungkin akan sering membahas contoh-contoh kejadian atau orang-orang yang perlu untuk diwaspadai. Tanpa disadari, jika disampaikan dengan cara yang kurang tepat justru akan memunculkan rasa takut bagi siswa saat berhadapan dengan orang baru. Sehingga pemilihan cara penyampaian perlu diperhatikan dengan seksama. Beri motivasi kepada siswa bahwa jika berhati-hati dan waspada ia tetap bisa berinteraksi dengan orang baru yang aman.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Perbanyak latihan dan simulasi (<em>role play)</em></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan banyaknya hal yang perlu dihindari oleh siswa, mungkin ia akan kesulitan mengingat semuanya. Latihan yang konsisten dan <em>role play</em> akan membantu memvisualisasikan informasi yang telah dipelajari siswa. Metode lain dalam melatih kewaspadaan siswa bisa dengan melihat berita atau video edukatif. Selain itu, bisa juga dengan mengajak siswa untuk mendeskripsikan situasi sulit atau situasi membingungkan yang pernah dialami. Jika siswa merasa kesulitan untuk menceritakan, ajak siswa untuk menyampaikan dengan cara lain. Contohnya dengan menggambar orang-orang yang terlibat dan percakapan apa saja yang diingat oleh siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Penulis: </strong><strong>Imarotul Masiroh S.Psi</strong><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
