<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kids reading &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sekolahku.sch.id/tag/kids-reading/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Aug 2021 03:54:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://sekolahku.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-sekolahku-favicon-32x32.png</url>
	<title>kids reading &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mewujudkan Kemampuan Baca Anak yang Optimal</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/08/02/mewujudkan-kemampuan-baca-anak-yang-optimal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2021 03:51:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak membaca]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan membaca]]></category>
		<category><![CDATA[kids reading]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[read aloud]]></category>
		<category><![CDATA[tips anak]]></category>
		<category><![CDATA[tips membaca anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=602</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun: Kaifa Nurussama, S.Psi. Turkeltaub, et. al. (2005: 103) mengatakan bahwa kemampuan terpenting yang harus dipelajari pada masa kanak-kanak adalah membaca. Hal yang serupa dikemukakan oleh Burns, dkk. (Farida Rahim, 2008: 1) disebutkan bahwa kemampuan membaca merupakan sesuatu yang vital dalam suatu masyarakat terpelajar, karena aktivitas belajar pada anak dimulai dari bagaimana individu membaca, dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun: Kaifa Nurussama, S.Psi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Turkeltaub, et. al. (2005: 103) mengatakan bahwa kemampuan terpenting yang harus dipelajari pada masa kanak-kanak adalah membaca. Hal yang serupa dikemukakan oleh Burns, dkk. (Farida Rahim, 2008: 1) disebutkan bahwa kemampuan membaca merupakan sesuatu yang vital dalam suatu masyarakat terpelajar, karena aktivitas belajar pada anak dimulai dari bagaimana individu membaca, dan proses membaca buku akan sangat dipentingkan bagi anak untuk kehidupan mendatang. Cromley, Hogan, dan Dubas (2010: 687) menjelaskan bahwa pemahaman membaca berkaitkan erat dengan prestasi akademik. Semakin baik pemahaman membaca, maka semakin baik pemahaman pada semua disiplin ilmu yang memerlukan pemahaman membaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Disamping kemampuan membaca merupakan hal yang terpenting dalam prestasi akademik siswa, faktanya menurut Indeks Aktivitas Literasi Membaca hanya terdapat  35% waktu yang digunakan responden yang melakukan aktivitas membaca, aktivitas lain yang lebih diminati selain membaca yang dominan dilakukan ialah menonton TV (sebanyak 21% responden) dan aktivitas bermain gim atau media sosial melalui telepon pintar, tablet, dan komputer (sebanyak 21% responden). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan hasil asesmen pada tahun 2012-2014 terungkap juga bahwa hanya setengah dari siswa kelas tiga yang memiliki kemampuan membaca memuaskan(dapat membaca dan memahami isi bacaan), dan tidak sampai setengah dari siswa kelas dua memiliki kemampuan membaca yang memuaskan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Fuad Hasan (dalam Sutarno, 2003) mengatakan bahwa upaya untuk meningkatkan ‘minat baca’ masyarakat harus berpijak dari adanya <strong>‘kemampuan membaca</strong>’. Kemampuan atau kecakapan membaca (proficiency) merupakan syarat awal untuk mengakses bacaan. Setelah memiliki kecakapan membaca, maka langkah selanjutnya ialah membina ‘kebiasaan membaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memiliki kemampuan membaca yang optimal, yaitu:</strong></p>



<ol class="wp-block-list"><li>Anak harus memiliki proses pembelajaran yang tepat pada tumbuh kembangnya</li><li>Mengenal Huruf</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">-Bernyanyi lagu Alfabet</p>



<p class="wp-block-paragraph">-Menyamakan kartu Alfabet</p>



<p class="wp-block-paragraph">-Menyamakan huruf besar dan kecil</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. Identifikasi huruf kecil</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">-Vokal</p>



<p class="wp-block-paragraph">-Konsonan</p>



<p class="wp-block-paragraph">-Huruf kecil identik&nbsp;diakhir &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika hal-hal dasar tersebut sudah dikuasai, maka siswa sudah mendekati kesiapan dalam membaca. Beberapa Langkah lain, seperti mengenal suku kata serta kata dan menjadi kalimat dilangkah selanjutnya sudah siap ditempuh. </p>



<p class="wp-block-paragraph">4. Membangkitkan minat anak dalam membaca</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika anak sudah mampu membaca, atau memiliki kemampuan membaca yang cukup, anak juga harus mampu untuk memahami arti dari bacaan yang telah ia baca untuk mengoptimalkan kemampuan membacanya. Maka dari itu dibutuhkan komponen lanjutan lainnya, yaitu:</p>



<p class="wp-block-paragraph">5. Tersedianya bahan bacaan </p>



<p class="wp-block-paragraph">6. Pembinaan kebiasaan membaca</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian upaya yang dilakukan, mampu menunjang anak untuk membangkitkan minat literasi dan menghindari terjadinya kesulitan membaca. Anak mampu mengeksplor lebih lanjut dan hal tersebut mampu berpengaruh untuk kemampuan prestasi anak dikemudian hari. Minat baca sebaiknya dibangun sejak dini, hal ini di upayakan untuk meminimalisir minat anak pada hal-hal lain, seperti halnya bermain <em>games</em>&nbsp;atau penggunaan <em>gadget </em>bahkan lebih menyedikan lagi ketika hal tersebut sudah menjadi suatu adiksi atau candu bagi anak. Walaupun terdapat perkembangan zaman diharapkan literasi membaca anak Indonesia tetap mampu meningkat, bahkan lebih baik lagi.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bisa Membaca vs Cinta Membaca</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/05/24/bisa-membaca-vs-cinta-membaca/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 May 2021 04:18:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak baca]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[child education]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[classroom]]></category>
		<category><![CDATA[kids reading]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[literasi]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[reading]]></category>
		<category><![CDATA[teacher]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=561</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Dessy Yustiana, S.Pd Proses belajar literasi yang berkaitan dengan keterampilan berbahasa tulis mengandung 3 aspek yang saling berkaitan, yaitu: a. Bisa Membaca b. Membaca-memahami c. Cinta Membaca A &#160;Bisa Membaca Baru Langkah Awal Tahapan awal dari proses literasi diawali dengan anak-anak belajar membaca. Anak belajar mengenal huruf, melafalkan suku kata dan kata, kemudian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Dessy Yustiana, S.Pd</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses belajar literasi yang berkaitan dengan keterampilan berbahasa tulis mengandung 3 aspek yang saling berkaitan, yaitu:</p>



<p class="wp-block-paragraph">a. Bisa Membaca</p>



<p class="wp-block-paragraph">b. Membaca-memahami</p>



<p class="wp-block-paragraph">c. Cinta Membaca</p>



<p class="wp-block-paragraph">A &nbsp;Bisa Membaca Baru Langkah Awal</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tahapan awal dari proses literasi diawali dengan anak-anak belajar membaca. Anak belajar mengenal huruf, melafalkan suku kata dan kata, kemudian membaca rangkaian huruf yang tersusun dalam kata dan kalimat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika anak sudah bisa membaca, bukan berarti urusan selesai. Masih ada hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan dan dilakukan agar keterampilan membaca itu bermanfaat bagi anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">B. Membaca adalah Untuk Memahami</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena manusia bukan beo, kita bukan hanya membunyikan huruf dan kata. Kita membaca untuk mencari informasi dan memahami materi yang kita baca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demikian pun, proses belajar anak-anak tidak hanya berhenti pada kemampuan melafalkan huruf dan kata, tetapi perlu bergerak naik hingga memahami makna dari kalimat yang dibacanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan memahami makna teks yang dibaca, di sinilah proses belajar yang sejati sesungguhnya terjadi. Anak mendapatkan wawasan, pengetahuan, dan aneka sudut pandang melalui buku atau teks yang dibacanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memahami adalah salah satu inti dari proses belajar membaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">c. Membangun Budaya Cinta Membaca</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain memahami teks yang dibaca, proses belajar membaca perlu mengembangkan sebuah aspek yang berdampak jangka panjang yaitu budaya kecintaan membaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Budaya kecintaan membaca terbentuk dari proses belajar membaca yang membahagiakan. Peran orang tua sangatlah penting sebagai lingkungan pertama yang memperkenalkan budaya membaca yang menyenangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai sebuah budaya, proses membangun kecintaan membaca ditempuh melalui jalan panjang, bertahap, berulang-ulang selama bertahun-tahun tidak dapat dilihat dalam waktu yang instan, maka dari itu pentingnya membangun budaya membaca dari lingkungan keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika budaya kecintaan membaca telah diperoleh anak, maka anak akan terus bersemangat belajar dan membaca apapun yang menjadi minat dan perhatiannya. Bonusnya tanpa perlu diminta, dipaksa, bahkan dituntut untuk membaca, dengan senang hati anak akan melakukannya karena kegiatan membaca sudah tertanam menyenangkan dalam pikirannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"> </p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa saja sih tantangan dalam Belajar Membaca?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tantangan yang sering terjadi saat anak-anak belajar membaca adalah penekanan hanya pada langkah pertama, yaitu anak bisa membaca. Cukup banyak orangtua yang bergegas dan berlomba-lomba agar anaknya secepatnya bisa membaca atau melafalkan huruf, suku kata, dan kata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Orangtua berlomba-lomba agar anaknya bisa membaca, tapi berhenti hanya sampai bisa melafalkan huruf dan membaca kata. Ketika anak sudah bisa membaca (read aloud), seolah semuanya sdah selesai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal itu baru langkah pertama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang perlu disadari dan dijaga oleh orangtua adalah agar proses belajar membaca anak tidak hanya ditujukan untuk kepentingan jangka pendek, tetapi juga bermanfaat jangka panjang bagi anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa hal perlu diperhatikan,</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, proses belajar membaca tak boleh merusak kecintaan anak untuk membaca dan mencintai bacaan. Anak jangan sampai merasa trauma dalam proses belajar membaca, sehingga dia membenci buku dan kegiatan membaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, perkenalkan anak dengan bahan bacaan sedini mungkin, luangkanlah waktu untuk membaca buku bersama, bangunlah suasana yang menggembirakan saat membaca</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, setelah anak bisa membaca, proses belajar selanjutnya adalah membimbing anak agar memahami yang dibacanya sambil mengembangkan kemampuan kritisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keempat, jadilah panutan bagi anak, jika ingin menumbuhkan kecintaan membaca pada anak maka jadilah sosok orang tua yang gemar membaca, sehingga anak termotivasi untuk rajin membaca</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan sampai anak belajar membaca dan mau membaca hanya karena tuntutan materi pelajaran sekolah yang harus ia kerjakan, namun anak tidak menikmati momen membacanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak yang bisa membaca belum tentu cinta membaca, tetapi anak yang cinta membaca sudah pasti bisa dan paham apa yang dibacanya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
