<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>learning disabilities &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sekolahku.sch.id/tag/learning-disabilities/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2023 02:50:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://sekolahku.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-sekolahku-favicon-32x32.png</url>
	<title>learning disabilities &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>5 Hal Yang Harus Diperhatikan Ketika Mengajar Anak Dengan Kebutuhan Khusus </title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2023/01/18/5-hal-yang-harus-diperhatikan-ketika-mengajar-anak-dengan-kebutuhan-khusus/</link>
					<comments>https://sekolahku.sch.id/2023/01/18/5-hal-yang-harus-diperhatikan-ketika-mengajar-anak-dengan-kebutuhan-khusus/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2023 02:44:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning disabilities]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<category><![CDATA[special needs kids]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=928</guid>

					<description><![CDATA[Disusun oleh : Dory Agustia Belajar adalah sebuah proses transfer ilmu antara guru dan siswa sebagai pembelajar. Perubahan sikap atau pola berfikir serta perilaku adalah hasil dari pembelajaran. Tentu saja hal itu akan menjadi tolak ukur dalam menentukan bahwa individu tersebut benar telah belajar atau belum sama sekali. Aspek pembelajaran ini juga tidak terbatas hanya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><br>Disusun oleh : Dory Agustia<br><br>Belajar adalah sebuah proses transfer ilmu antara guru dan siswa sebagai pembelajar. Perubahan sikap atau pola berfikir serta perilaku adalah hasil dari pembelajaran. Tentu saja hal itu akan menjadi tolak ukur dalam menentukan bahwa individu tersebut benar telah belajar atau belum sama sekali. Aspek pembelajaran ini juga tidak terbatas hanya pada kemampuan akademis tetapi juga mencakup berbagai pengetahuan lainnya yang menjadikan poembelajaran itu disebut berporos pada bidang nya. Misalnya untuk mengembangkan kemampuan tubuh maka pembelajaran dengan melibatkan aktifitas fisik adalah pilihan utama seperti Olahraga. <br>Pembelajaran tidak terbatas pada penyampaian teori tetapi juga kemampuan terapan dalam kehidupan sehari-hari sebagai hasil dari proses belajar maka individu belajar dapat memiliki kemampuan dasar dalam memecahkan masalah yang ia temui dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan ilmu yang fungsional dan penerapan ilmu yang berbasis pada kemampuan tematis. <br>Keseimbangan antara setiap kemampuan tersebut dibutuhkan bagi setiap individu belajar agar memiliki perkembangan pada setiap aspek pengetahuan atau kemampuan yang ia miliki. Pembelajaran sendiri tidak terbatas pada anak dengan kondisi regular atau normal saja, tetapi juga dapat diterima bagi anak berkebutuhan khusus. Bagaimana pola pembelajaran yang harus diterapkan dan hal apa saja yang menjadi bagian penting untuk diperhatikan bagi setiap guru atau orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. <br>Pada artikel ini akan dijabarkan tentang 5 hal penting dalam mengajar anak dengan kebutuhan khsusus yang memiliki kemampuan berbeda pada setiap individunya bahkan mungkin akan sedikit tertinggal dari anak dengan kondisi normal. <br><br>1. Belajar sambil melakukan <br>Pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus yang utama adalah dengan lebih banyak melakukan apa yang akan diajarkan. Sebagai contoh, anda akan mengenalkan apa itu buku. Secara sadar anda akan meneybutkan bahwa buku adalah kumpulan kertas dengan warna putih bertekstur lembut dan dapat di bubuhi dengan tulisan menggunakan alat tulis berupa pulpen. <br>Ketika menjelaskan hal seperti ini anda akan memberikan waktu bagi anak dengan kebutuhan khusus untuk terus kebingungan dan mungkin akan bereaksi diluar dugaan anda. Karena kesulitan untuk mencerna informasi tersebut dan memetakan menjadi sebuah realita. <br>Pembelajaran yang tepat adalah anda akan melibatkan sebuah media visual atau benda konkrit lalu dibawa ke hadapannya dan sebutkan dengan singkat dan jelas bahwa “ini buku”. Sambil membuka setiap lembarannya dan dapat mencoba memberikan coretan pada buku tersebut. Libatkan anak dengan lebih aktif maka itu akan menjadi basis pengetahuan yang melekat. Tentu saja anda harus memastikan bahwa anak tersebut bisa menerima media visual nya. <br><br>2. Pembelajaran yang terstruktur dan detail <br>Pada suatu kondisi anak berkebutuhan khusus memiliki kemampuan yang berbeda beda setiap individunya, oleh sebab itu masing-masing memiliki daya serap pengetahuan dan repetisi dalam mengajar nya juga berbeda. Pembelajaran yang terstruktur dan detail ini bertujuan untuk mempermudah anak dalam belajar melalui potongan tugas dengan sangat hati-hati serta detail. <br><br>Misalnya ketika anda mengajarkan seorang anak berkebutuhan khusus untuk makan, maka anda harus mengenalkan dahulu peralatan makan, tata cara menggunakannya hingga sampai masuk ke mulut harus diapakan makanan tersebut. Hal itu tentu terlihat mudah bagi mereka dengan kondisi normal namun tidak bagi mereka dengan kebutuhan khusus, poerkembangan pada kemampuan sensoris serta kemampuan motoris juga diperlukan untuk dapat melakukan setiap kegiatan tersebut hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan dapat memberikan efek pembelajaran yang berkepanjangan</p>



<p class="wp-block-paragraph">3. Tidak memaksakan Critical Thinking<br>Mari kita sederhanakan dengan bahasa yang sangat sederhana yaitu ajarkan lah setiap anak berkebutuhan khusus dari tahap paling mudah hingga sulit. Cara belajar yang seperti ini terlihat sangat membosankan karena biasanya hal yang menurut anak normal akan mudah tetapi tidak dengan anak dengan berkebutuhan khusus akan mengalami pengulangan kegiatan berulang-ulang kali. Tentu saja akan menjadi ujian tersendiri bagi seorang guru atau pembimbingnya tetapi itu juga adalah tanggung jawab yang harus diemban. <br>Anda akan sangat mudah menjelaskan bagaimana bentuk pizza dengan topping pepperoni dan sedikit saus pedas, lalu muncul dalam bayangan anda seperti apa bentuk, warna dan bahkan rasanya. Tetapi tidak bagi anak berkebutuhan khusus, mereka akan dapat menjelaskan kepada anda ketika anda memberikan sekotak pizza pepperoni lalu dipotong dan berikan padanya untuk dicicipi, maka setelah itu ia akan tau bagaimana bercerita tentang pizza tersebut. Dengan bantuan atau tanpa bantuan anda, itu akan tergantung kemampuan anak tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>4. Upayakan pembelajaran terapan <br>Ilmu terapan dalam arti luas ddan dalam lingkup akademis tentu mengandung makna keilmuan yang sangat tinggi. Namun saat ini, konsep terapan yang ingin dimaksudkan adalah konsep terapan untuk bisa digunakan pada kehidupan sehari-hari bagi anak berkebutuhan khusus agar ia dapat menerapkan pembelajaran yang ia terima dalam kehidupan sehari-hari. <br>Misalnya anda mengajarkan tentang kemampuan kemandirian ketika Buang air kecil dan buang air besar akan lebih berguna daripada anda mengajarkan kemampuan hitung aljabar pada anak tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>5. Jangan Lupakan Teknologi<br>Mudahnya saat ini adalah semua yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dapat dan sudah berkembang menjadi mudah karena teknologi dan pembaruan yang ditemukan oleh banyak orang diluar sana. Oleh sebab itu, manfaat kan banyak teknologi pula bagi anak berkebutuhan khusus untuk dapat belajar. Capaian utamanya adalah kemampuan dengan penggunaan teknologi akan lebih mempermudah anak tersebut untuk belajar. Tentu saja tujuan utamanya bukan dengan memanfaatkan teknologi sehingga anak menjadi terdistraksi untuk belajar. <br>Misalnya ketika ingin mengajarkan konsep ekspresi, maka kita dapat menggunakan banyak video pembelajaran yang ditemukan diyoutube untuk dapat memberikan knowledge tentang ekspresi sambil diawasi dan dijelaskan kepada anak untuk dapat menirukan ekspresi tersebut. Namun ketika anda membiarkan anak untuk menggunakan gadget untuk menonton dan pengalihan ketika anda sedang tidak ingin diganggu dan anak sedang marah atau tantrum tentu saja itu menjadi hal yang salah. </p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sekolahku.sch.id/2023/01/18/5-hal-yang-harus-diperhatikan-ketika-mengajar-anak-dengan-kebutuhan-khusus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenali Gaya Belajar Anak Yuk!</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/04/28/kenali-gaya-belajar-anak-yuk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2021 06:57:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[children]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[gaya belajar]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>
		<category><![CDATA[kinestetik]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning disabilities]]></category>
		<category><![CDATA[masalah belajar]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pandemic]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<category><![CDATA[visual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=534</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Restiyanti Wahyudin, S.Psi Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda satu sama lainnya, ada yang lebih senang belajar sambil mendengarkan musik, ada juga yang lebih senang ditempat yang tenang. Ada yang suka belajar sambil menggambarkan kesimpulannya di dalam sebuah kertas, ada juga yang hanya cukup membacanya saja, maka dari itu setiap anak memiliki [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Restiyanti Wahyudin, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda satu sama lainnya, ada yang lebih senang belajar sambil mendengarkan musik, ada juga yang lebih senang ditempat yang tenang. Ada yang suka belajar sambil menggambarkan kesimpulannya di dalam sebuah kertas, ada juga yang hanya cukup membacanya saja, maka dari itu setiap anak memiliki cara efektif yang berbeda dalam belajar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, untuk memudahkan kita para pendidik dalam proses belajar mengajar bersama ananda, kita harus tahu dulu nih anak tersebut termasuk tipe anak dengan gaya belajar apa sih? Menurut Bobby De Potter, gaya belajar seseorang dibagi menjadi tiga tipe, yaitu visual, auditori dan kinestetik.</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Gaya Belajar visual</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Gaya belajar visual berfokus pada penglihatan. Saat mempelajari hal baru, biasanya tipe ini perlu melihat sesuatu secara visual untuk lebih mudah mengerti dan memahami. Selain itu, tipe visual juga lebih nyaman belajar dengan penggunaan warna-warna, garis, maupun bentuk. Itu sebabnya anak yang memiliki tipe visual biasanya memiliki pemahaman yang mendalam dengan nilai artistik seperti panduan warna dan lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika memiliki karakteristik berikut ini, berarti ananda termasuk tipe visual :</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Mudah mengingat dari yang dilihat daripada yang didengar</li><li>Lebih suka membaca daripada dibacakan</li><li>Berbicara dengan tempo yang cukup cepat</li><li>Lebih menyukai melakukan demonstrasi daripada pidato</li><li>Sulit menerima instruksi secara verbal kecuali ditulis</li><li>Tidak mudah terdistraksi dengan keramaian</li><li>Suka menggambar apapun di kertas</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Cara belajar yang tepat untuk visual:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Belajar dari gambar maupun video yang menarik</li><li>Membaca buku yang tidak hanya tulisan saja tetapi juga memiliki ilustrasi</li><li>Saat belajar bisa sambil lakukan doodling supaya lebih fokus</li><li>Gunakan spidol warna-warni saat membuat catatan</li><li>Membuat mind mapping untuk memudahkan belajar</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">2.Gaya Belajar Auditori</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gaya belajar auditori, mengandalkan pendengaran sebagai penerima informasi dan pengetahuan. Orang tipe belajar ini tidak masalah dengan tampilan visual saat mengajar, yang penting adalah mendengarkan pembicaraan guru dengan baik dan jelas. Nah, makannya tipe auditori biasanya paling peka dan hafal dari setiap ucapan yang pernah didengar bukan apa yang dilihat. Kalau ada teman ananda yang hobi mengingatkan kelas untuk tenang bisa jadi teman ananda merupakan tipe auditori.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika memiliki karakteristik berikut ini berarti ananda termasuk tipe auditori:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Suka mengingat sesuatu dari apa yang didengar daripada yang dilihat</li><li>Senang mendengarkan</li><li>.Mudah terdistraksi dengan keramaian</li><li>Kesulitan dalam tugas atau pekerjaan yang melibatkan visual</li><li>Pandai menirukan nada atau pun irama suara</li><li>Senang membaca dengan mengeluarkan suara atau menggerakan bibir</li><li>Biasanya merupakan pembicara yang fasih</li><li>Mudah dalam mengingat nama saat berkenalan dengan orang baru</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Cara belajar yang tepat untuk tipe auditori:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Dengarkan musik yang disukai</li><li>Bisa merekam saat guru mengajarkan lalu dikemudian hari didengar kembali</li><li>Apabila membaca buku, bisa sambil diucapkan dengan suara pelan untuk lebih mudah mengingat</li><li>Mendengarkan materi yang diajarkan guru saat di kelas dengan seksama</li><li>Belajar dengan diskusi bersama teman supaya lebih mudah memahami maupun mengingat materi</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">3.Gaya Belajar Kinestetik</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gaya belajar ini menyenangi belajar yang melibatkan gerakan. Biasanya anak dengan tipe ini, merasa lebih mudah mempelajari sesuatu tidak hanya sekedar membaca buku, tetapi juga mempraktikkannya. Dengan melakukan atau menyentuh objek yang dipelajari akan memberikan pengalaman tersendiri bagi tipe kinestetik. Makanya, orang yang memiliki gaya belajar tipe ini biasanya tidak betah berdiam terlalu lama di kelas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika memiliki karakteristik berikut berarti ananda termasuk tipe kinestetik:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Menyenangi belajar dengan metode praktik</li><li>Kadang kesulitan dalam menulis tetapi pandai dalam bercerita</li><li>Menyukai aktivitas yang melibatkan gerakan tubuh seperti olahraga atau menari</li><li>Saat berkomunikasi banyak menggunakan isyarat gerak tubuh</li><li>Menghafal dengan cara berjalan atau melihat</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Cara belajar yang tepat untuk kinestetik:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Saat mendapatkan materi belajar, bila memungkinkan segara coba praktikkan</li><li>Belajar sambil melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan, misalnya sambil berjalan atau sesederhana menjentikkan jari</li><li>.Melakukan eksperimen dari materi yang didapatkan dari guru</li><li>Bisa mengunjungi tempat yang berhubungan dengan materi di pelajaran, misalnya untuk pelajaran sejarah bisa mengunjungi museum</li><li>Mengikuti ekstrakurikuler seperti KIR (Kelompok Ilmiah Remaja)</li></ol>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Lebih dalam Pentingnya Permainan Sensorik</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/04/28/mengenal-lebih-dalam-pentingnya-permainan-sensorik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2021 06:52:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[body awareness]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[children]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[fine motor]]></category>
		<category><![CDATA[gross motor]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning disabilities]]></category>
		<category><![CDATA[masalah belajar]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[motorik]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pandemic]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[sensorik]]></category>
		<category><![CDATA[sensory]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=532</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Lidya Fitriani, S.Psi Permainan sensorik merupakan segala aktivitas yang dapat menstimulasi indera anak. Indera disini tidak terbatas pada kelima indera yang pada umumnya orang-orang ketahui, yaitu tentang penglihatan, perabaan, pengecapan, pendengaran, dan penciuman, melainkan juga tentang keseimbangan serta body awareness, atau yang memberikan informasi tentang posisi anggota tubuh serta kekuatan yang perlu dikeluarkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Lidya Fitriani, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Permainan sensorik merupakan segala aktivitas yang dapat menstimulasi indera anak. Indera disini tidak terbatas pada kelima indera yang pada umumnya orang-orang ketahui, yaitu tentang penglihatan, perabaan, pengecapan, pendengaran, dan penciuman, melainkan juga tentang keseimbangan serta <em>body awareness</em>, atau yang memberikan informasi tentang posisi anggota tubuh serta kekuatan yang perlu dikeluarkan untuk melakukan suatu gerakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Permainan sensorik tidak hanya penting untuk anak berkebutuhan khusus saja, melainkan setiap anak perlu mendapatkan stimulasi berbagai macam sensori agar ia mampu beradaptasi. Misalnya ketika anak bermain dengan benda-benda yang bertekstur basah dan lembek, hal ini akan membantu anak dalam menciptakan pemahaman tentang benda-benda yang bertekstur basah dan lembek secara positif di otak, sehingga muncul perasaan aman. Kedepannya, ketika anak dihadapkan dengan makanan dengan tekstur tersebut, akan menjadi lebih terbantu (<a href="http://www.educationalplaucare.com"><u>www.educationalplaycare.com</u></a>). Ada pula manfaat-manfaat lainnya dari permainan sensorik, yaitu:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Dapat meningkatkan kemampuan bahasa. Anak akan lebih memahami apa arti kata licin, bau masam, mempelajari arti kata larut dengan merasakannya secara langsung.</li></ol>



<ul class="wp-block-list"><li>Meningkatkan kemampuan motorik halus. Permainan sensorik seringkali melibatkan penggunaan dan pengembangan keterampilan motorik halus seperti gerakan menjepit, menuangkan, dan mengikat tali.</li></ul>



<ul class="wp-block-list"><li>Dapat membantu anak menjadi lebih tenang. Dengan lebih banyak terpapar dengan berbagai macam stimulasi, anak akan menjadi lebih tenang dan nyaman karena sudah tebangun pemahaman yang positif.</li></ul>



<ul class="wp-block-list"><li>Meningkatkan hubungan yang positif dengan orang tua. Ketika anak melakukan berbagai aktivitas seru bersama orang tua, akan terjalin kedekatan dan hubungan yang baik.</li></ul>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Melatih Social Skills Anak di Masa Pandemi</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/04/28/melatih-social-skills-anak-di-masa-pandemi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2021 06:49:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[children]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[kemampuan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning disabilities]]></category>
		<category><![CDATA[masalah belajar]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[pandemic]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<category><![CDATA[social skills]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=530</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Noor Fauziah, S.Psi Di masa seperti ini segala sesuatu dilakukan secara daring yang tentunya berdampak pada perkembangan sosial anak-anak. Anak-anak tidak dapat bersosialisasi dengan baik karena segala sesuatunya hanya dilakukan di dalam rumah. Proses sosialisasi terjadi secara alami apabila anak-anak dapat bertatap muka secara langsung, bersekolah, bermain dengan teman-teman, berkomunikasi dengan guru. Disinilah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Noor Fauziah, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di masa seperti ini segala sesuatu dilakukan secara daring yang tentunya berdampak pada perkembangan sosial anak-anak. Anak-anak tidak dapat bersosialisasi dengan baik karena segala sesuatunya hanya dilakukan di dalam rumah. Proses sosialisasi terjadi secara alami apabila anak-anak dapat bertatap muka secara langsung, bersekolah, bermain dengan teman-teman, berkomunikasi dengan guru. Disinilah peran orang tua sangat penting dibutuhkan sebagai pengganti untuk melatih kemampuan sosial pada anak selama di rumah. Ada beberapa hal yang bisa ayah bunda lakukan untuk melatih kemampuan soaial anak selama di rumah.</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Menonton film bersama</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Ajak anak untuk menonton film bersama, pilihkan film-film yag sesuai dengan usianya. Ajak mereka untuk mengenal tokoh, karakter, dan perasaan yang dirasakan tokoh-tokoh pada film tersebut. Kegiatan ini dapat melatih <em>perspective taking</em>&nbsp;pada anak.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Bermain peran</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Bermain peran dapat melatih kemampuan sosial anak lho. Gunakan boneka atau wayang dan buatlah sebuah cerita, ajak anak untuk menjadi lawan mainnya. Ditengah-tengah bermain, orang tua dapat membuat konflik dan mengajak anak untuk memecahkan masalah tersebut serta mencari solusinya.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Mendongeng</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Membacakan dongeng dapat menjadi salah satu kegiatan menyenangkan. Dengan mendongeng anak belajar untuk mendengarkan dan memperhatikan. Selain itu anak juga dapat menghadirkan tokoh dalam dongeng, belajar memecahkan konflik sederhana lewat berbagai perspektif.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Ajak anak membantu pekerjaan rumah</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan ini melatih anak untuk saling membantu dan bekerjasama, terlebih jika di rumah memiliki lebih dari satu anak. Ajak anak membantu hal-hal ringan seperti merapikan kamar bersama orang tua, menyiram tanaman, memberi makan peliharaan.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Bertemu teman-temannya secara virtual</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Berikan kesempata pada anak untuk bertemu teman-temannya secara virtual. Menyapa teman melalui <em>video call</em>, telfon, atau <em>zoom class</em>&nbsp;dapat melatih anak untuk mendengarkan dan menunggu giliran untuk berbicara.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Persilakan anak bercerita</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Ajak anak bercerita apa saja tentang kegiatanya dalam sehari. Biarka anak mengungkapkan perasaannya selama bercerita. Kegiatan ini dapat melatih anak untuk mengendalikan emosi dan belajar mengungkapkan perasaan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>5 Cara Melatih Anak Berkebutuhan Khusus Berpuasa di Bulan Ramadhan</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/04/28/5-cara-melatih-anak-berkebutuhan-khusus-berpuasa-di-bulan-ramadhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2021 06:46:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[children]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning disabilities]]></category>
		<category><![CDATA[masalah belajar]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pandemic]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=528</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun :   M.FATKHURRAHMAN, S.Pd Berpuasa merupakan aktivitas yang tidak hanya menahan haus dan lapar namun juga menahan hawa nafsu. Berpuasa tidak hanya erat dalam ajaran agama. Dalam dunia kesehatan, berpuasa juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Sejak kecil anak sudah diajarkan mengenai berpuasa sehingga nantinya anak akan semakin terbiasa. Namun tidak hanya anak normal pada umumnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun :   M.FATKHURRAHMAN, S.Pd</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berpuasa merupakan aktivitas yang tidak hanya menahan haus dan lapar namun juga menahan hawa nafsu. Berpuasa tidak hanya erat dalam ajaran agama. Dalam dunia kesehatan, berpuasa juga bermanfaat bagi tubuh manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak kecil anak sudah diajarkan mengenai berpuasa sehingga nantinya anak akan semakin terbiasa. Namun tidak hanya anak normal pada umumnya lho. Orang tua juga bisa melatih anak berkebutuhan khusus berpuasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan seseorang yang mengalami tunanetra (buta), tunarungu (tuli), tunagrahita (hambatan mental intelektual), tunadaksa (fisik, motorik, otot, sendi), tunalaras (hambatan perilaku), autis (hambatan sosial), dll sehingga membutuhkan layanan khusus untuk mengembangkan potensinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1. Berikan pemahaman mengenai puasa</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Memberikan pemahaman terhadap anak mengenai berpuasa sangat penting dilakukan di awal supaya anak berkebutuhan khusus paham dengan apa yang mereka lakukan. Sebaiknya dalam memberikan pemahaman, orang tua melakukan dengan cara yang sederhana sehingga dapat dimengerti oleh anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2. Meminta anak untuk mencoba</strong><strong>&nbsp;Berpuasa </strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Cara melatih berpuasa selanjutnya tentunya adalah mencoba. Mintalah anak untuk mencoba berpuasa satu hari sekuatnya saja. Dengan mencoba akan memberikan pengalaman langsung kepada anak mengenai berpuasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. Berikan target</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila anak berkebutuhan khusus sudah mencoba berpuasa sekuatnya selama beberapa hari. Selanjutnya berikan target pada anak misalnya saja dalam satu hari makan hanya jam 12 siang dan ketika berbuka yakni sekitar pukul 6 sore. Bila sudah mulai terbiasa maka latih berpuasa dalam satu hari penuh</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>4. Lakukan pembiasaan</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah selanjutnya adalah lakukan pembiasaan pada anak. Pembiasaan akan membuat anak terbiasa melakukan aktivitas tersebut, sehingga lama kelamaan akan menjadi sebuah budaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>5. Berikan reward atau hadiah</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Memberikan reward atau hadiah sangat penting agar anak termotivasi dalam melakukan. Tidak perlu hadiah mahal, cukup hadiah-hadiah sederhana yang disukai anak. Selain itu bisa juga berikan pujian ketika anak dapat menjalankan ibadah puasa hingga selesai setiap hari.<br><br></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
