<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>orangtua &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sekolahku.sch.id/tag/orangtua/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 07 Oct 2021 02:29:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://sekolahku.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-sekolahku-favicon-32x32.png</url>
	<title>orangtua &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menjadi Support System untuk Anak Down Syndrome</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/10/07/menjadi-support-system-untuk-anak-down-syndrome/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Oct 2021 02:28:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[down syndrome]]></category>
		<category><![CDATA[dukungan]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[support]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=668</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Annisa Muthmainnah, S.Pd Seperti yang kita tahu kalau anak down syndrome merupakan memiliki kelainan genetik kromosomnya, sehingga dapat mempengaruhi perkembangan fisik, mental dan pengetahuannya. Tak menutup kemungkinan orang tua yang dianugerahi anak dengan kelainan down syndrome ini akan berkecil hati. Anak down syndrome juga termasuk anak special yang dapat tumbuh dan berkembang walau berbeda dengan teman-teman [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Annisa Muthmainnah, S.Pd</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang kita tahu kalau anak <em>down syndrome</em> merupakan memiliki kelainan genetik kromosomnya, sehingga dapat mempengaruhi perkembangan fisik, mental dan pengetahuannya. Tak menutup kemungkinan orang tua yang dianugerahi anak dengan kelainan <em>down syndrome</em> ini akan berkecil hati. Anak <em>down syndrome</em> juga termasuk anak special yang dapat tumbuh dan berkembang walau berbeda dengan teman-teman sebayanya nanti. Anak <em>down syndrome</em> mampu tidak sih untuk ikut pembelajaran dan keterampilan? Jawabannya, mampu. Berikut beberapa cara agar anak <em>down syndrome</em> dapat mengikuti pembelajaran dan mengembangkan keterampilannya dengan baik :</p>



<ul class="wp-block-list" type="1"><li>Dukungan orang terdekat</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Yang dibutuhkan anak <em>down syndrome</em>&nbsp;adalah dukungan dari orang terdekatnya, yaitu orang tua dan anggota keluarganya yang lain. Untuk orang luar seperti guru-gurunya juga teman-temannya. Orang tua dan anggota keluarganya harus dapat menerima kekurangan yang ada pada dirinya, begitupun lingkungan sekolahnya harus diberikan penjelasan kekurangan yang ada pada dirinya, karena orang luar terlebih yang masih awam akan menganggap sebelah mata anak<em>&nbsp;down</em>&nbsp;<em>syndrome</em>&nbsp;dan menyebutnya anak <em>autisme</em>, padahal kenyatannya berbeda antara anak <em>down</em>&nbsp;<em>syndrome</em>&nbsp;dengan anak <em>autisme</em>. Setelah memberikan penjelasan dari keluarga juga orang luar, pastikan anak <em>down syndrome</em>&nbsp;ini mendapatkan dukungannya. Seperti saat di dalam kelas, teman-temannya tidak boleh membedakannya dengan teman yang lainnya. Begitupun guru-gurunya, harus merangkul dirinya, tidak boleh membedakan dengan siswa lain, menganggap ia tidak dapat mengikuti pembelajaran di kelas. Guru-gurunya dapat menurunkan standar materinya dan menggunakan media tambahan khusus anak <em>down syndrome</em>. Misal pelajaran Bahasa Indonesia sedang materi membuat puisi dan membacanya, untuk anak <em>down syndrome</em>&nbsp;dapat menonton video terlebih dahulu dan memperagakannya. Misalnya pelajaran IPA materi perubahan wujud benda, anak <em>down syndrome</em>&nbsp;dapat menggunakan contoh bendanya langsung agar memudahkannya belajar.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Memberikan kepercayaan</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah memberikan dukungan, jangan lupa memberikan kepercayaan padanya untuk mengexplore apa yang ada dihadapannya. Kita tidak boleh mengecilkan hatinya dengan berkata “Bukan seperti itu mengerjakannya” atau “Kamu bisa tidak mengerjakannya?”, terlebih ini diucapkan ke anak <em>down syndrome</em>&nbsp;yang umurnya memasuki remaja, karena mereka sudah dapat membedakan kalimat yang dapat mengecilkan hatinya. Berikan kepercayaan padanya untuk menyelesaikan tugasnya sendiri, tugas kita sebagai guru yaitu mendampingi dan memberikan instruksi bagaimana pengerjaannya, yakinlah kalau dirinya bisa menyelesaikan tugasnya. Misal seperti pelajaran Bahasa Indonesia materi membaca puisi, berikan kepercayaan dengan memberikan kesempatan membaca puisi sesuai kemampuannya. Atau saat waktu istirahat, berikan kepercayaan padanya untuk membelanjakan uangnya di kantin dan berkomunikasi pada penjaga kantin, orang tua atau gurunya dapat kroscek belanjaan dan uangnya saat sudah pulang sekolah jika terdapat kesalahan padanya diingatkan ketika sudah di rumah.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Minat dan bakat</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Yang harus diperhatikan dari anak <em>down syndrome </em>ini minat dan bakatnya agar dapat mengikuti pembelajaran. Misalnya menyukai menonton film dan senang mengobrol, mintalah untuknya menceritakan sinopsis dari film yang ditontonnya. Sebagai orang tua atau gurunya dapat mengarahkan minat dan bakatnya pada Bahasa Indonesia dikembangkan bidang drama. Saat ada perlombaan, jangan lupa ikut sertakan dalam kegiatan lomba tersebut. Jika kalah, kita dapat mengingatkan dan kembali mendukungnya bahwa menang atau kalah wajar dalam kompetisi, dan tidak boleh berkecil hati.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Menghargai dan mengakui keberadaan mereka</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk anak <em>down syndrome </em>usia remaja ternyata juga membutuhkan pengakuan publik bahwa dirinya mampu seperti teman-teman sebaya. Contoh sederhana bentuk pengakuan keberadaan dirinya dengan memberi <em>reward</em>&nbsp;atas ketercapaian tugasnya dapat diselesaikan walau tidak sempurna. Misal, kita dapat memberikan kesempatan dia memilih satu snack kesukaannya sendiri di kantin sekolah. Atau juga berupa toss <em>(hi5)</em>&nbsp;atas ketercapaiannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walaupun banyak yang memandang sebelah mata anak <em>down syndrome</em>, pada dasarnya anak <em>down syndrome </em>&nbsp;ini seperti anak-anak sebayanya yaitu anak yang manis, ceria, dan juga berperasaan. Tugas kita sebagai orang tua dan gurunya harus mendukung, mengakui keberadaan dirinya, dan memberikan kepercayaan padanya. Jika ia melakukan kesalahan, tegur dengan menjauh dari keramaian. Jika kita yang melakukan kesalahan, kita pun harus mencontohkan dengan meminta maaf lebih dulu.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penting atau enggak sih mengapresiasi anak?</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/10/01/penting-atau-enggak-sih-mengapresiasi-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2021 04:08:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi anak]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[pujian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=657</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Anisa Dinda Ayu Nandary S.Psi Seringkali tanpa disadari ketika anak sudah berusaha melakukan yang terbaik, orangtua sering lupa untuk memberikan apresiasi terhadap apa yang sudah dilakukan anak. Tidak jarang lebih banyak terfokuskan ketika anak melakukan kesalahan dibandingkan ketika anak berusaha melakukan yang ia bisa ataupun berhasil melakukan sesuatu. Papa dan mama, tau ngga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Anisa Dinda Ayu Nandary S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seringkali tanpa disadari ketika anak sudah berusaha melakukan yang terbaik, orangtua sering lupa untuk memberikan apresiasi terhadap apa yang sudah dilakukan anak. Tidak jarang lebih banyak terfokuskan ketika anak melakukan kesalahan dibandingkan ketika anak berusaha melakukan yang ia bisa ataupun berhasil melakukan sesuatu. Papa dan mama, tau ngga sih kalau apresiasi itu ternyata memiliki peran penting lho untuk anak!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Papa dan Mama memberi apresiasi terhadap usaha yang dilakukan anak, anak akan lebih merasa bahwa usaha yang sudah ia lakukan dihargai. Ternyata apresiasi sendiri membawa beberapa manfaat yang secara tidak langsung dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri pada anak, meningkatkan kreativitas pada anak, membangun motivasi anak agar berusaha lebih maksimal dan membangun hubungan yang baik antara anak dan orangtua. Pemberian apresiasi dalam bentuk benda sangat disukai anak, tetapi tidak hanya benda saja yang dapat menjadi cara untuk mengapresiasi anak, ternyata pemberian apresiasi dapat dilakukan dengan cara yang mudah lho!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut tips yang dapat dilakukan untuk mengapresiasi anak (Alfon, 2021).</p>



<ul class="wp-block-list" type="1"><li>Berikan apresiasi dalam bentuk pujian</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Sampaikan kalimat positif saat anak melakukan hal sederhana, seperti menunjukkan inisiatif melakukan sesuatu, merapikan dan membersihkan tempat tidur sendiri, membantu Papa dan Mama saat membawakan barang, membantu mencuci piring ataupun mencoba melakukan kegiatan sehari-hari dengan mandiri. Perlu diingat juga, dalam pemberian pujian ada baiknya dapat terfokus pada proses atau usaha itu sendiri bukan hanya sekedar melihat dari hasil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu contoh, “Wah adek hebat ya, Mama tahu soal yang dikerjakan tidak mudah, tapi adek hebat lho mau berusaha untuk mengerjakan soalnya”.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Memberikan pelukan</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya dalam bentuk pujian, Papa dan Mama juga dapat memberikan pelukan sebagai salah satu bentuk apresiasi secara fisik. Pelukan yang diberikan oleh Papa dan Mama dapat dirasakan anak sebagai bentuk perhatian. Di sisi lain dapat meningkatkan kelekatan antara orangtua dengan anak.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Dampingi anak saat sedang berproses</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Saat anak sedang berproses melakukan sesuatu, ada baiknya Papa dan Mama bisa mendampinginya. Pendampingan orangtua menjadi salah satu bentuk perhatian dan penghargaan yang luar biasa bagi anak. Papa dan Mama bisa memberikan semangat saat anak sedang berusaha melakukan sesuatu ataupun memberi sedikit bantuan ketika mereka membutuhkan. Pemberian bantuan dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. Perlunya keyakinan dari Papa dan Mama agar percaya bahwa anak mampu bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugasnya dengan baik.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Meluangkan waktu bersama dengan anak</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Quality time juga bisa menjadi bentuk apresiasi. Papa dan Mama bisa meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama, seperti pergi bersama, bermain bersama, sharing hal-hal yang sederhana. Kehadiran Papa dan Mama dapat menjadi hal yang berharga bagi anak.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak mogok sekolah, kenapa dan bagaimana ya?</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/09/27/anak-mogok-sekolah-kenapa-dan-bagaimana-ya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Sep 2021 12:44:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[masalah anak]]></category>
		<category><![CDATA[mogok sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=649</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Dessy Yustiana, S.Pd Saat anak ngambek tidak mau berangkat ke sekolah, tentu akan membuat orangtua bingung. Pasalnya, pendidikan formal di sekolah akan membantu memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sekaligus menambah pergaulan. Namun, Anda jangan khawatir. Ikuti cara berikut untuk membujuk anak agar mau berangkat sekolah dengan hati riang. Ketahui alasan anak tidak mau [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Dessy Yustiana, S.Pd</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat anak ngambek tidak mau berangkat ke sekolah, tentu akan membuat orangtua bingung. Pasalnya, pendidikan formal di sekolah akan membantu memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sekaligus menambah pergaulan. Namun, Anda jangan khawatir. Ikuti cara berikut untuk membujuk anak agar mau berangkat sekolah dengan hati riang.</p>



<ol class="wp-block-list"><li><strong>Ketahui alasan anak tidak mau sekolah</strong></li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Agar Anda tahu cara efektif untuk membujuk anak agar mau pergi sekolah, Anda harus cari tahu terlebih dahulu apa yang menjadi alasan anak tidak mau pergi ke sekolah. Masing-masing anak mungkin memiliki alasan yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah pertama adalah dengan menganalisa penyebab si anak mogok sekolah. Usahakan untuk menghindari sikap menjustifikasi atau mencap bahwa si anak pemalas gara-gara mogok sekolah. Boleh jadi, ada beberapa penyebab anak mogok sekolah, yang asalnya bukan dari si anak. Di sekolah, anak tentu bergaul dengan teman-teman sekelasnya, teman-teman sekolah, para guru dan orang tua murid lainnya. Nah, siapa tahu ada di antara unsur lingkungan anak di sekolah tersebut yang membuat anak mungkin merasa takut, jengkel atau perasaan lain yang kurang menyenangkan sehingga kita perlu mengetahui caranya agar dapat mengatasi anak mogok sekolah. Karena itu, kita tidak bisa menyelesaikan persoalan ini sendirian. Setidaknya, ada tiga pihak yang perlu diajak diskusi dalam mencari akar masalah, yaitu anak, pasangan kita dan pihak sekolah (guru). Kalau pengasuhan anak juga melibatkan orang lain, semisal kakek neneknnya, pembantu atau yang lain. Ajaklah diskusi mereka, karena siapa tahu penyebabnya juga bisa muncul dari sana.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2. Perba</strong><strong>nyaklah&nbsp; Mendengarkan </strong><strong>Anak</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada kasus anak tiba-tiba mogok sekolah tanpa sebab. Sudah tentu sebelum terjadi mogok sekolah, anak sudah menunjukkan gelagat malas bersekolah. Namun siapa tahu karena kita yang kurang peka melihat bahasa tubuhnya, atau malas mendengarkan keluh kesahnya dan terlalu cepat menyimpulkan sikap anak, maka kita melewatkan masa kritis saat anak membutuhkan pertolongan. Karena itu, dekatilah si anak, dengarkan keluh kesah dan permintaannya. Peluk ia dengan berkata, “Ibu/Ayah mengerti. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, nak”. Hindari menyimpulkan bahwa anak bersalah. Bandingkan dulu dengan pernyataan dari pihak kedua dan ketiga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila pernyataan anak mengarah pada pihak sekolah atau teman-temannya, maka Anda harus berdiskusi dengan pihak sekolah. Tanyakan bagaimana kegiatan anak di sekolah, apakah terlihat antusias atau ada yang mengganggu dan pertanyaan lain yang terkait. Kalau Anda bingung ingin bertanya apa, tanyakan saja satu pertanyaan sederhana, “Bapak/Ibu guru, apa yang bisa membuat anak saya semangat bersekolah?”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. </strong><strong>Ajak Diskusi Pasangan</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu kita ketahui, proses pengasuhan bukanlah &nbsp;tanggung jawab ibu semata. Melainkan, tanggung jawab berdua dengan ayah. Apabila ada ayah yang cuek karena menganggap tugasnya hanya mencari nafkah, mulai sekarang cobalah untuk terbuka dan menjelaskan problem yang dialami anak. Ajak pasangan untuk memecahkan masalah anak secara bersama. Anak kita pasti akan bersemangat dan bahagia apabila melihat orangtuanya kompak memperhatikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap anak memang memiliki problem tersendiri yang khas karena terkait dengan kepribadian orangtua, lingkungan tempat ia tinggal dan karakteristik teman-teman atau gurunya. Lantaran itulah, penyebab mogok sekolah menjadi bervariasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini beberapa hal yang sering diungkapkan oleh si anak saat tidak mau sekolah:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Karena Sakit</strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan tidak mungkin si anak tiba-tiba sakit dan tidak mau berangka sekolah. Hal ini wajar terjadi. Namanya juga anak-anak, biasanya mereka mengabaikan rasa sakitnya karena terlalu asyik bermain, sampai kemudian lewat batas ketahanan tubuhnya, sehingga jatuh sakit. Sehingga, di waktu pagi ia menjadi malas bangun dan tak ingin berangkat sekolah. Sebab sakit fisik yang seperti ini relatif mudah dideteksi dari kondis tubuhnya yang demam, atau suaranya yang serak-serak atau gelagat dan tanda-tanda sakit lainnya.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Takut dengan Temannya</strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu diketahui, penyebab ini biasanya terjadi pada anak yang tidak mampu bersosialisasi dengan baik. Pendiam dan sejak awal merasa rendah diri. Sehingga, bukan tidak mungkin ia menjadi sasaran ejekan teman-temannya di sekolah.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Kehilangan Teman</strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Sudah menjadi hal biasa jika anak sering marah-marahan dengan temannya. Saat anak melakukan kesalahan atau dalam mood yang tidak baik, ia akan dihindari temannya. Merasa dihindari oleh teman adalah sesuatu yang menyakitkan bagi si anak. Hal seperti ini sangat mungkin membuat anak malas sekolah karena merasa tak memiliki teman dekat.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Tidak Cocok dengan Guru</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi anak-anak usia SMP atau SMA, ketidakcocokan dengan guru sudah tidak begitu menjadi kekhawatiran orang tua. Sebab di usia ini, anak sudah punya sikap dan pendirian yang lebih kuat. Anak sudah dapat membedakan mana yang baik dan buruk.Namun untuk anak yang masih usia TK dan SD, dibutuhkan peran orang tua untuk mengasi anak yang mogok sekolah karena tidak cocok dengan guru.Kita perlu cari tahu anak tak mau sekolah karena tidak bisa menerima pelajaran dengan baik, atau ada materi tertentu yang membuat anak merasa tak mampu menguasainya. Ajaklah diskusi guru wali kelas untuk mengurai masalahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari alasan-alasan yang akhirnya kita ketahui, maka perlu untuk mencari solusi yang tepat. Berikut beberapa solusi yang bisa ditawarkan :</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Luangkan Waktu untuk Anak</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu saja, dari masalah yang diungkapkan anak, pihak sekolah dan hasil diskusi dengan pasangan, kita tentu sudah bisa mengambil kesimpulan. Apapun masalahnya, luangkanlah waktu terbaik Anda untuk anak-anak. Apabila kedua orangtua bekerja dan lebih sering menitipkan pengasuhan kepada pembantu, baby sister atau kakek-neneknya, sebaiknya segera kurangi aktivitas Anda di luar dan mulailah lebih intens mengasuh anak. Di waktu terbaik Anda, manfaatkan untuk lebih banyak bertanya tentang keluarga, perasaannya terhadap ayah/ibu, apa yang diinginkan dari ayah/ibu, apa cita-citanya, apa yang diinginkan anak saat itu dan pertanyaan lain terkait perasaan anak. Supaya anak tidak merasa diinterogasi, cobalah bertanya sambil bermain atau liburan khusus sehari bersama orangtua. Ingatlah untuk fokus, fokus, fokus saat mencurahkan perasaan sayang dan perhatian kepada anak. Dengan cara demikian, anak merasa nyaman untuk bercerita dan berbagi. Sehingga, saat Anda meminta anak berkisah tentang sekolah dan kendala-kendalanya, ia akan terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hindari untuk menyalahkan anak. Orang tua bisa sambil menasehati nya dengan cara ini,</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Nggak apa-apa, nak. Ibu/ayah dulu waktu seusia kamu juga pernah dijauhi teman. Itu wajar dan tidak berlangsung lama, kok. Ibu/Ayah tetap sekolah karena masih banyak teman lain yang menyenangkan dan bisa diajak bermain”</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Nggak apa-apa, kak. Ibu/Ayah dulu juga tidak terlalu suka dengan matematika. Tapi, Ibu/Ayah tetap sekolah karena matematika itu berguna saat kita belanja, mengatur keuangan keluarga, bekerja atau membuka usaha nantinya”</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Ajari Anak Bersosialisasi</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah anak merasa nyaman dengan pola pengasuhan Anda, ada juga perlu mengajarkan anak bersosialisasi. Sejak awal, bukalah pikiran anak, bahwa anak tidak selamanya hanya tinggal bersama keluarga. Suatu ketika, anak akan berjumpa dengan dunia luar. Karena itu, disarankan untuk mengajarkan anak bersosialisasi dengan lingkungan luar sejak dini. Dengan demikian, ketika tiba saatnya bersekolah, anak dapat dengan cepat menyesuaikan diri dan cara ini dapat mengatasi anak mogok sekolah. Sosialisasi bisa Anda ajarkan dengan cara sederhana. Misalnya dengan mengajak ngobrol dengan saudara atau kakek-nenek, menyapa tetangga, menanyakan kabar kerabat jauh atau mengajak anak ke tempat baru yang memungkinkan interaksi dengan manusia.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Memberi Tambahan Pelajaran</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Boleh jadi, anak enggan sekolah karena merasa tak mampu mengikuti pelajaran. Nah, bila penyebabnya karena ini, Anda perlu mencari tahu minat anak. Ingat, tidak semua anak dilahirkan pandai secara akademis.Karena ada berbagai jenis kecerdasan dimana setiap anak memiliki kecenderungan khas yang tak bisa disamaratakan dengan anak lainnya. Mungkin anak Anda kurang dalam matematika. Tapi, setelah dicermati ternyata ia pandai melukis dan mewarnai. Tidak perlu khawatir, meskipun matematika adalah pelajaran yang akan diujikan di Ujian Nasional dan menjadi salah satu mata pelajaran penentu kelulusan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yakinlah bahwa anak Anda memiliki kelebihan lain yang perlu ditonjolkan. Hanya saja, Anda belum menemukan wadah yang tepat untuk mengembangkan potensi tersebut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika anak memutuskan sesuatu, orangtua harus bagaimana ya?</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/08/25/ketika-anak-memutuskan-sesuatu-orangtua-harus-bagaimana-ya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2021 02:36:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[keputusan]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[konsekuensi]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[tips parenting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=624</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun :  Anisa Dinda Ayu Nandary S.Psi Ketika anak memutuskan sesuatu, anak belajar untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan merupakan salah satu ketrampilan yang perlu di miliki setiap individu. Pengambilan keputusan perlu di ajarkan pada anak sejak dini, karena pada akhirnya anak akan dihadapkan dengan berbagai pilihan hidup sesuai dengan tahapan usianya (Day, 2020). Ketika orangtua [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : <strong> Anisa Dinda Ayu Nandary S.Psi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika anak memutuskan sesuatu, anak belajar untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan merupakan salah satu ketrampilan yang perlu di miliki setiap individu. Pengambilan keputusan perlu di ajarkan pada anak sejak dini, karena pada akhirnya anak akan dihadapkan dengan berbagai pilihan hidup sesuai dengan tahapan usianya (Day, 2020). Ketika orangtua memberi kesempatan pada anak untuk memilih sesuatu, anak merasa berharga (Karoh, 2020), meningkatkan kepercayaan diri pada anak, anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya dan bila anak terbiasa diberi kesempatan untuk memilih sesuatu, ternyata dapat membantu anak dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, anak memiliki berbagai ide yang dapat dijadikan pilihan ketika menyelesaikan masalah. Disisi lain, ketika anak mengambil keputusannya sendiri, anak juga belajar mengenai konsekuensi. Anak akan belajar mengenali hasil dari tindakan yang dipilihnya, apakah dapat berdampak baik atau sebaliknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila orangtua ingin melatih anak dalam mengambil keputusan, ada beberapa langkah yang dapat digunakan,</p>



<ul class="wp-block-list" type="a"><li><strong>Memberikan contoh</strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Anak akan cenderung meniru orangtua. Orangtua dapat memberikan contoh pada kondisi senyatanya. Ketika orangtua dan anak pergi untuk membeli sesuatu, berikan contoh pada anak terkait pertimbangan dalam memilih benda yang ingin dibeli dan membandingkan pada kedua benda yang di pilih, baik kekurangan atau kelebihan mengenai benda tersebut.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Memberikan pilihan</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Orangtua dapat membantu memberikan beberapa pilihan untuk anak. Seperti memilih aktivitas yang ingin dilakukan “Mau main boneka atau menggambar?”, bisa juga dengan memberi pilihan terkait pakaian yang digunakan “Mau pakai baju warna biru atau baju warna abu-abu?”</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Memberikan kesempatan anak untuk memilih</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Berikan kesempatan pada anak untuk memilih pada hal yang diinginkannya. Bila anak masih membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam memilih, orangtua dapat menunggu dengan sabar sampai anak memutuskan sesuatu. Bila pilihan anak belum sesuai dengan apa yang orangtua inginkan, tetap hargai anak karena sudah berproses mengambil keputusannya sendiri. Dengan menghargai proses tersebut, dapat meningkatkan rasa percaya diri pada anak dan anak menjadi lebih berharga, sedangkan sebaliknya, bila memaksakan kedendak pada anak memungkinkan dapat memunculkan rasa kurang di hargai dan kurang di percaya.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Bila anak sudah memilih, bantu anak untuk evaluasi pilihannya</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah memberi kesempatan pada anak untuk memilih, orangtua dapat mengajak anak untuk membahas bersama-sama terkait pilihan yang sudah dibuat. Orangtua dan anak dapat saling mengutarakan pendapatnya, orang tua dapat memberikan sudut pandang terkait hasil atau dampak dari keputusan yang dipilih anak. Dengan membahas bersama, anak akan berpikir mengenai tindakan yang dipilihnya, apakah dapat berdampak baik atau sebaliknya. Proses tersebut dapat membantu anak berpikir lebih kritis dan membantu anak dalam menghadapi permasalahan yang akan ditemuinya kelak.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal Anak Walau #DiRumahAja</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/07/13/meningkatkan-kecerdasan-interpersonal-anak-walau-dirumahaja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2021 05:27:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[#dirumahaja]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[child education]]></category>
		<category><![CDATA[covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi belajar anak]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan interpersonal]]></category>
		<category><![CDATA[orangtua]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan anak]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi anak]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=585</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Afifah Nurul Karimah, S.Psi Seperti yang kita ketahui bersama, pandemi COVID-19 membuat interaksi sosial terbatas secara fisik. Anak-anak mulai melakukan rutinitas belajar di rumah saja, berinteraksi hanya sebatas via media online seperti zoom atau google meet, namun di sisi lain, kebutuhan dan urgensi interaksi sosial dalam mengembangkan kemampuan sosial serta kecerdasan interpersonal juga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Afifah Nurul Karimah, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang kita ketahui bersama, pandemi COVID-19 membuat interaksi sosial terbatas secara fisik. Anak-anak mulai melakukan rutinitas belajar di rumah saja, berinteraksi hanya sebatas via media online seperti zoom atau google meet, namun di sisi lain, kebutuhan dan urgensi interaksi sosial dalam mengembangkan kemampuan sosial serta kecerdasan interpersonal juga tidak bisa dilepaskan begitu saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecerdasan interpersonal ini merupakan salah satu dari kecerdasan majemuk yang sangat penting dalam perkembangan anak.  Kecerdasan interpersonal yang berhasil akan membuat anak mampu mengembangkan keterampilan interaksi dengan orang lain secara positif, dalam hal ini aspek sosial dan emosi sangatlah memengaruhi.Perkembangan sosial emosi banyak membantu anak dalam menjalin relasi sosial, kegiatan bermain dan juga bersosialisasi (Tatminingsih, 2019). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengingat pentingnya perkembangan dalam peningkatan kecerdasan interpersonal ini menjadi catatan khusus bagi para pendidik dan juga orangtua untuk saling bekerjasama. Dengan terbatasnya interaksi, tidak seharusnya menjadi alasan untuk tidak berupaya optimal mengembangkannya demi masa depan anak yang lebih baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Lebih banyak menstimulasi kegiatan belajar di rumah dengan strategi bermain. Kegiatan bermain dapat mendorong anak untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi baik secara verbal dan non-verbal, meningkatan kemampuan dalam mengatasi konflik, belajar menjalani peran, melihat sudut pandang orang lain juga bernegosiasi. Walaupun misalnya sulit dilakukan bersama teman sebaya secara langsung, kegiatan ini bisa dilakukan via media online seperti zoom atau bersama orangtua, kakak/adik secara langsung di rumah.</li><li>Pendidik memberikan tugas belajar di rumah yang bersifat project-based learning, sehingga anak akan mengembangkan keterampilan dalam kepercayaan dirinya serta mendorong anak untuk bertanya/berbicara lebih banyak terhadap orang lain dalam mengungkapkan ide atau gagasannya.</li><li>Mengajak ananda untuk menggambar dengan ragam metode. Dalam menggambar, anak bisa mengekspresikan emosinya secara bebas. Minta anak untuk menjelasksan apa maksud atau cerita dari gambar yang ia buat.</li><li>Memperbanyak kelekatan waktu yang intensif dan berkualitas dengan anak di rumah perlu untuk dilakukan oleh orangtua. Hal ini menjadi penting karena, dalam keadaan harus #dirumaaja, anak hanya memiliki teman secara langsung yaitu anggota keluarganya, dalam hal ini orangtua berperan utama dalam berkontribusi aktif mengembangkan kemampuan sosial-emosinya.</li><li>Orangtua perlu untuk berkomunikasi aktif dan bekerjasama dengan guru untuk saling menemukan solusi terbaik dalam meningkatkan kecerdasan interpersonal anak.</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph"> </p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
