<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>psychology &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sekolahku.sch.id/tag/psychology/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Apr 2021 07:00:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://sekolahku.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-sekolahku-favicon-32x32.png</url>
	<title>psychology &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kenali Gaya Belajar Anak Yuk!</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/04/28/kenali-gaya-belajar-anak-yuk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2021 06:57:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[children]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[gaya belajar]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>
		<category><![CDATA[kinestetik]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning disabilities]]></category>
		<category><![CDATA[masalah belajar]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pandemic]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<category><![CDATA[visual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=534</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Restiyanti Wahyudin, S.Psi Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda satu sama lainnya, ada yang lebih senang belajar sambil mendengarkan musik, ada juga yang lebih senang ditempat yang tenang. Ada yang suka belajar sambil menggambarkan kesimpulannya di dalam sebuah kertas, ada juga yang hanya cukup membacanya saja, maka dari itu setiap anak memiliki [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Restiyanti Wahyudin, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda satu sama lainnya, ada yang lebih senang belajar sambil mendengarkan musik, ada juga yang lebih senang ditempat yang tenang. Ada yang suka belajar sambil menggambarkan kesimpulannya di dalam sebuah kertas, ada juga yang hanya cukup membacanya saja, maka dari itu setiap anak memiliki cara efektif yang berbeda dalam belajar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, untuk memudahkan kita para pendidik dalam proses belajar mengajar bersama ananda, kita harus tahu dulu nih anak tersebut termasuk tipe anak dengan gaya belajar apa sih? Menurut Bobby De Potter, gaya belajar seseorang dibagi menjadi tiga tipe, yaitu visual, auditori dan kinestetik.</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Gaya Belajar visual</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Gaya belajar visual berfokus pada penglihatan. Saat mempelajari hal baru, biasanya tipe ini perlu melihat sesuatu secara visual untuk lebih mudah mengerti dan memahami. Selain itu, tipe visual juga lebih nyaman belajar dengan penggunaan warna-warna, garis, maupun bentuk. Itu sebabnya anak yang memiliki tipe visual biasanya memiliki pemahaman yang mendalam dengan nilai artistik seperti panduan warna dan lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika memiliki karakteristik berikut ini, berarti ananda termasuk tipe visual :</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Mudah mengingat dari yang dilihat daripada yang didengar</li><li>Lebih suka membaca daripada dibacakan</li><li>Berbicara dengan tempo yang cukup cepat</li><li>Lebih menyukai melakukan demonstrasi daripada pidato</li><li>Sulit menerima instruksi secara verbal kecuali ditulis</li><li>Tidak mudah terdistraksi dengan keramaian</li><li>Suka menggambar apapun di kertas</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Cara belajar yang tepat untuk visual:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Belajar dari gambar maupun video yang menarik</li><li>Membaca buku yang tidak hanya tulisan saja tetapi juga memiliki ilustrasi</li><li>Saat belajar bisa sambil lakukan doodling supaya lebih fokus</li><li>Gunakan spidol warna-warni saat membuat catatan</li><li>Membuat mind mapping untuk memudahkan belajar</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">2.Gaya Belajar Auditori</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gaya belajar auditori, mengandalkan pendengaran sebagai penerima informasi dan pengetahuan. Orang tipe belajar ini tidak masalah dengan tampilan visual saat mengajar, yang penting adalah mendengarkan pembicaraan guru dengan baik dan jelas. Nah, makannya tipe auditori biasanya paling peka dan hafal dari setiap ucapan yang pernah didengar bukan apa yang dilihat. Kalau ada teman ananda yang hobi mengingatkan kelas untuk tenang bisa jadi teman ananda merupakan tipe auditori.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika memiliki karakteristik berikut ini berarti ananda termasuk tipe auditori:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Suka mengingat sesuatu dari apa yang didengar daripada yang dilihat</li><li>Senang mendengarkan</li><li>.Mudah terdistraksi dengan keramaian</li><li>Kesulitan dalam tugas atau pekerjaan yang melibatkan visual</li><li>Pandai menirukan nada atau pun irama suara</li><li>Senang membaca dengan mengeluarkan suara atau menggerakan bibir</li><li>Biasanya merupakan pembicara yang fasih</li><li>Mudah dalam mengingat nama saat berkenalan dengan orang baru</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Cara belajar yang tepat untuk tipe auditori:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Dengarkan musik yang disukai</li><li>Bisa merekam saat guru mengajarkan lalu dikemudian hari didengar kembali</li><li>Apabila membaca buku, bisa sambil diucapkan dengan suara pelan untuk lebih mudah mengingat</li><li>Mendengarkan materi yang diajarkan guru saat di kelas dengan seksama</li><li>Belajar dengan diskusi bersama teman supaya lebih mudah memahami maupun mengingat materi</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">3.Gaya Belajar Kinestetik</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gaya belajar ini menyenangi belajar yang melibatkan gerakan. Biasanya anak dengan tipe ini, merasa lebih mudah mempelajari sesuatu tidak hanya sekedar membaca buku, tetapi juga mempraktikkannya. Dengan melakukan atau menyentuh objek yang dipelajari akan memberikan pengalaman tersendiri bagi tipe kinestetik. Makanya, orang yang memiliki gaya belajar tipe ini biasanya tidak betah berdiam terlalu lama di kelas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika memiliki karakteristik berikut berarti ananda termasuk tipe kinestetik:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Menyenangi belajar dengan metode praktik</li><li>Kadang kesulitan dalam menulis tetapi pandai dalam bercerita</li><li>Menyukai aktivitas yang melibatkan gerakan tubuh seperti olahraga atau menari</li><li>Saat berkomunikasi banyak menggunakan isyarat gerak tubuh</li><li>Menghafal dengan cara berjalan atau melihat</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Cara belajar yang tepat untuk kinestetik:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Saat mendapatkan materi belajar, bila memungkinkan segara coba praktikkan</li><li>Belajar sambil melakukan aktivitas yang melibatkan gerakan, misalnya sambil berjalan atau sesederhana menjentikkan jari</li><li>.Melakukan eksperimen dari materi yang didapatkan dari guru</li><li>Bisa mengunjungi tempat yang berhubungan dengan materi di pelajaran, misalnya untuk pelajaran sejarah bisa mengunjungi museum</li><li>Mengikuti ekstrakurikuler seperti KIR (Kelompok Ilmiah Remaja)</li></ol>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Lebih dalam Pentingnya Permainan Sensorik</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/04/28/mengenal-lebih-dalam-pentingnya-permainan-sensorik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2021 06:52:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[body awareness]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[children]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[fine motor]]></category>
		<category><![CDATA[gross motor]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning disabilities]]></category>
		<category><![CDATA[masalah belajar]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[motorik]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pandemic]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[sensorik]]></category>
		<category><![CDATA[sensory]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=532</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Lidya Fitriani, S.Psi Permainan sensorik merupakan segala aktivitas yang dapat menstimulasi indera anak. Indera disini tidak terbatas pada kelima indera yang pada umumnya orang-orang ketahui, yaitu tentang penglihatan, perabaan, pengecapan, pendengaran, dan penciuman, melainkan juga tentang keseimbangan serta body awareness, atau yang memberikan informasi tentang posisi anggota tubuh serta kekuatan yang perlu dikeluarkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Lidya Fitriani, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Permainan sensorik merupakan segala aktivitas yang dapat menstimulasi indera anak. Indera disini tidak terbatas pada kelima indera yang pada umumnya orang-orang ketahui, yaitu tentang penglihatan, perabaan, pengecapan, pendengaran, dan penciuman, melainkan juga tentang keseimbangan serta <em>body awareness</em>, atau yang memberikan informasi tentang posisi anggota tubuh serta kekuatan yang perlu dikeluarkan untuk melakukan suatu gerakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Permainan sensorik tidak hanya penting untuk anak berkebutuhan khusus saja, melainkan setiap anak perlu mendapatkan stimulasi berbagai macam sensori agar ia mampu beradaptasi. Misalnya ketika anak bermain dengan benda-benda yang bertekstur basah dan lembek, hal ini akan membantu anak dalam menciptakan pemahaman tentang benda-benda yang bertekstur basah dan lembek secara positif di otak, sehingga muncul perasaan aman. Kedepannya, ketika anak dihadapkan dengan makanan dengan tekstur tersebut, akan menjadi lebih terbantu (<a href="http://www.educationalplaucare.com"><u>www.educationalplaycare.com</u></a>). Ada pula manfaat-manfaat lainnya dari permainan sensorik, yaitu:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Dapat meningkatkan kemampuan bahasa. Anak akan lebih memahami apa arti kata licin, bau masam, mempelajari arti kata larut dengan merasakannya secara langsung.</li></ol>



<ul class="wp-block-list"><li>Meningkatkan kemampuan motorik halus. Permainan sensorik seringkali melibatkan penggunaan dan pengembangan keterampilan motorik halus seperti gerakan menjepit, menuangkan, dan mengikat tali.</li></ul>



<ul class="wp-block-list"><li>Dapat membantu anak menjadi lebih tenang. Dengan lebih banyak terpapar dengan berbagai macam stimulasi, anak akan menjadi lebih tenang dan nyaman karena sudah tebangun pemahaman yang positif.</li></ul>



<ul class="wp-block-list"><li>Meningkatkan hubungan yang positif dengan orang tua. Ketika anak melakukan berbagai aktivitas seru bersama orang tua, akan terjalin kedekatan dan hubungan yang baik.</li></ul>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Melatih Social Skills Anak di Masa Pandemi</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/04/28/melatih-social-skills-anak-di-masa-pandemi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2021 06:49:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[children]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[kemampuan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning disabilities]]></category>
		<category><![CDATA[masalah belajar]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[pandemic]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<category><![CDATA[social skills]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=530</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Noor Fauziah, S.Psi Di masa seperti ini segala sesuatu dilakukan secara daring yang tentunya berdampak pada perkembangan sosial anak-anak. Anak-anak tidak dapat bersosialisasi dengan baik karena segala sesuatunya hanya dilakukan di dalam rumah. Proses sosialisasi terjadi secara alami apabila anak-anak dapat bertatap muka secara langsung, bersekolah, bermain dengan teman-teman, berkomunikasi dengan guru. Disinilah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Noor Fauziah, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di masa seperti ini segala sesuatu dilakukan secara daring yang tentunya berdampak pada perkembangan sosial anak-anak. Anak-anak tidak dapat bersosialisasi dengan baik karena segala sesuatunya hanya dilakukan di dalam rumah. Proses sosialisasi terjadi secara alami apabila anak-anak dapat bertatap muka secara langsung, bersekolah, bermain dengan teman-teman, berkomunikasi dengan guru. Disinilah peran orang tua sangat penting dibutuhkan sebagai pengganti untuk melatih kemampuan sosial pada anak selama di rumah. Ada beberapa hal yang bisa ayah bunda lakukan untuk melatih kemampuan soaial anak selama di rumah.</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Menonton film bersama</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Ajak anak untuk menonton film bersama, pilihkan film-film yag sesuai dengan usianya. Ajak mereka untuk mengenal tokoh, karakter, dan perasaan yang dirasakan tokoh-tokoh pada film tersebut. Kegiatan ini dapat melatih <em>perspective taking</em>&nbsp;pada anak.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Bermain peran</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Bermain peran dapat melatih kemampuan sosial anak lho. Gunakan boneka atau wayang dan buatlah sebuah cerita, ajak anak untuk menjadi lawan mainnya. Ditengah-tengah bermain, orang tua dapat membuat konflik dan mengajak anak untuk memecahkan masalah tersebut serta mencari solusinya.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Mendongeng</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Membacakan dongeng dapat menjadi salah satu kegiatan menyenangkan. Dengan mendongeng anak belajar untuk mendengarkan dan memperhatikan. Selain itu anak juga dapat menghadirkan tokoh dalam dongeng, belajar memecahkan konflik sederhana lewat berbagai perspektif.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Ajak anak membantu pekerjaan rumah</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan ini melatih anak untuk saling membantu dan bekerjasama, terlebih jika di rumah memiliki lebih dari satu anak. Ajak anak membantu hal-hal ringan seperti merapikan kamar bersama orang tua, menyiram tanaman, memberi makan peliharaan.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Bertemu teman-temannya secara virtual</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Berikan kesempata pada anak untuk bertemu teman-temannya secara virtual. Menyapa teman melalui <em>video call</em>, telfon, atau <em>zoom class</em>&nbsp;dapat melatih anak untuk mendengarkan dan menunggu giliran untuk berbicara.</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Persilakan anak bercerita</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Ajak anak bercerita apa saja tentang kegiatanya dalam sehari. Biarka anak mengungkapkan perasaannya selama bercerita. Kegiatan ini dapat melatih anak untuk mengendalikan emosi dan belajar mengungkapkan perasaan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>5 Cara Melatih Anak Berkebutuhan Khusus Berpuasa di Bulan Ramadhan</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/04/28/5-cara-melatih-anak-berkebutuhan-khusus-berpuasa-di-bulan-ramadhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2021 06:46:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[children]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning disabilities]]></category>
		<category><![CDATA[masalah belajar]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pandemic]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=528</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun :   M.FATKHURRAHMAN, S.Pd Berpuasa merupakan aktivitas yang tidak hanya menahan haus dan lapar namun juga menahan hawa nafsu. Berpuasa tidak hanya erat dalam ajaran agama. Dalam dunia kesehatan, berpuasa juga bermanfaat bagi tubuh manusia. Sejak kecil anak sudah diajarkan mengenai berpuasa sehingga nantinya anak akan semakin terbiasa. Namun tidak hanya anak normal pada umumnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun :   M.FATKHURRAHMAN, S.Pd</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berpuasa merupakan aktivitas yang tidak hanya menahan haus dan lapar namun juga menahan hawa nafsu. Berpuasa tidak hanya erat dalam ajaran agama. Dalam dunia kesehatan, berpuasa juga bermanfaat bagi tubuh manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak kecil anak sudah diajarkan mengenai berpuasa sehingga nantinya anak akan semakin terbiasa. Namun tidak hanya anak normal pada umumnya lho. Orang tua juga bisa melatih anak berkebutuhan khusus berpuasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan seseorang yang mengalami tunanetra (buta), tunarungu (tuli), tunagrahita (hambatan mental intelektual), tunadaksa (fisik, motorik, otot, sendi), tunalaras (hambatan perilaku), autis (hambatan sosial), dll sehingga membutuhkan layanan khusus untuk mengembangkan potensinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>1. Berikan pemahaman mengenai puasa</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Memberikan pemahaman terhadap anak mengenai berpuasa sangat penting dilakukan di awal supaya anak berkebutuhan khusus paham dengan apa yang mereka lakukan. Sebaiknya dalam memberikan pemahaman, orang tua melakukan dengan cara yang sederhana sehingga dapat dimengerti oleh anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>2. Meminta anak untuk mencoba</strong><strong>&nbsp;Berpuasa </strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Cara melatih berpuasa selanjutnya tentunya adalah mencoba. Mintalah anak untuk mencoba berpuasa satu hari sekuatnya saja. Dengan mencoba akan memberikan pengalaman langsung kepada anak mengenai berpuasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>3. Berikan target</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bila anak berkebutuhan khusus sudah mencoba berpuasa sekuatnya selama beberapa hari. Selanjutnya berikan target pada anak misalnya saja dalam satu hari makan hanya jam 12 siang dan ketika berbuka yakni sekitar pukul 6 sore. Bila sudah mulai terbiasa maka latih berpuasa dalam satu hari penuh</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>4. Lakukan pembiasaan</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah selanjutnya adalah lakukan pembiasaan pada anak. Pembiasaan akan membuat anak terbiasa melakukan aktivitas tersebut, sehingga lama kelamaan akan menjadi sebuah budaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>5. Berikan reward atau hadiah</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Memberikan reward atau hadiah sangat penting agar anak termotivasi dalam melakukan. Tidak perlu hadiah mahal, cukup hadiah-hadiah sederhana yang disukai anak. Selain itu bisa juga berikan pujian ketika anak dapat menjalankan ibadah puasa hingga selesai setiap hari.<br><br></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tips Memotivasi bagi 3 Jenis Anak yang Bermasalah dalam Belajar</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/04/26/tips-memotivasi-bagi-3-jenis-anak-yang-bermasalah-dalam-belajar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2021 17:35:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[child psychology]]></category>
		<category><![CDATA[children]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[kids]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[learning disabilities]]></category>
		<category><![CDATA[masalah belajar]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[murid]]></category>
		<category><![CDATA[pandemic]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[siswa]]></category>
		<category><![CDATA[special need students]]></category>
		<category><![CDATA[stress]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=524</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Kaifa Nurussama, S.Psi Anak-anak sering bermasalah dalam proses belajar, hal tersebut dapat namapk dari sikap menolak anak sebelum belajar yang mengakibatkan anak cenderung kurang memperhatikan atau mengikuti kegiatan belajar secara keseluruhan. Kerapkali anak hanya dapat bertahan mengikuti pembelajaran dengan jangka waktu yang sebentar. Anak-anak yang sering mengalami masalah dalam belajar dapat terbagi menjadi tiga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Kaifa Nurussama, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak-anak sering bermasalah dalam proses belajar, hal tersebut dapat namapk dari sikap menolak anak sebelum belajar yang mengakibatkan anak cenderung kurang memperhatikan atau mengikuti kegiatan belajar secara keseluruhan. Kerapkali anak hanya dapat bertahan mengikuti pembelajaran dengan jangka waktu yang sebentar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak-anak yang sering mengalami masalah dalam belajar dapat terbagi menjadi tiga jenis yatiu : <strong>anak yang terisolir</strong>, <strong>underachiever</strong>, dan <strong>maladaptive</strong>. Anak yang terisolir adalah&nbsp;anak yang sering mendapatkan penolakan dari lingkungannya, biasanya dikarenakan kemampuan daya pikirnya yang rendah menurut Andi Mappiare (1982:172–173), sedangkan&nbsp;menurut Elizabeth B.Hurlock (1991:217) ciri-ciri anak terisolir yakni: penampilan diri yang kurang menarik, penampilan yang tidak sesuai standar dalam kehidupan sosial khususnya pertemanan, menonjol diantara yang lain dengan menggangu orang lain, suka memerintah, serta tidak bekerjasama dengan baik dengan lingkungannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak yang <em>underachiever</em>&nbsp;adalah kondisi dimana anak tidak dapat menampilkan potensinya&nbsp;atau sering disebut mereka yang memiliki intelegensi tinggi tetapi prestasinya rendah dalam akademik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak yang <em>maladaptive </em>adalah individu yang tidak mampu menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan keadaan sekeliling. Perilaku maladaptif ini sering menimbulkan konflik, pertengkaran, tindak kekerasan dan perilaku antisosial lainnya terhadap orang-orang di sekelilingnya (Dadang Aswari;2007 dalam Rumini, 2008, hlm. 2).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga jenis anak yang bermasalah dalam belajar ini tentu saja dampaknya menjadi mengalami rendahnya motivasi, sehingga berdampak pula pada hasil pembelajaran yang diharapkan. Fenomena ini tentu saja butuh dukungan dari pendidik di lingkungannya, pada khususnya adalah mendoorng motivasinya dalam belajar agar dapat lebih beradaptasi dan mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Motivasi belajar dapat dimanifestasikan dalam bentuk ketahanan atau ketekunan dalam belajar, kesungguhan dalam menyimak, mengerjakan tugas, dan sebagiannya. &nbsp;Terdapat <strong>8 cara memotivasi </strong><strong>tiga jenis anak yang bermasalah dalam belajar &nbsp;</strong><strong>yaitu: </strong><strong></strong></p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li><strong>Berikan waktu anak untuk melakukan hobi</strong><strong></strong></li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Keseimbangan antara hobi dan studi mampu meningkatkan keefektifan dalam belajar.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Buat struktur belajar yang baik</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Membentuk kedisiplinan dalam belajar dengan membentuk struktur atau jadwal belajar. Harus membuat kegiatan belajar menjadi &nbsp;fokus. Boleh kasih reward, tapi saat selesai kegiatan belajar. (belajar tidak sambil memegang handpone atau melakukan kegiatan lain yang disuka). Tidak hanya memberi instruksi tapi juga mencontohkan untuk tidak bermain HP.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Beri Pujian </strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Jika anak telah melakukan kegiatan belajar dengan baik, berikan pujian atau berikan hadiah atas apresiasi belajarnya agar anak termotivasi untuk belajar dengan baik kembali di kemudian hari.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Lakukan terapi </strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Lakukanlah terapi tidur atau hypnosleep, jenis terapi yang dapat dilakukan orangtua dengan cara mengeluarkan kalimat motivasi atau kata bijak, juga bisa berupa doa yang dibisikkan ke telinga anak. Terapi ini dilakukan saat anak dalam kondisi tertidur pulas.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Tidak fokus ke nilai </strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap anak berbea-beda, jadi jika ada salah satu pelajaran yang mendapat nilai jelek jangan dimarahi, tapi coba gali potensi anak yang sesuai dengan karakter anak. Memarahi anak karena mendapat nilai jelek dapat membuat anak jadi merasa putus asa. Jika anak memiliki kesulitan dalam mengerjakan tugas, bantulah anak untuk mengerjakan bersama dan beri pemahaman terhadap materi yang belum dimengerti. <strong></strong></p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Masuk ke kehidupannya</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan langsung memarahi anak Ketika anak malas belajar, tapi galilah penyebab dari malasnya anak dalam belajar suatu mata pelajaran dengan lebih dekat dan mengenal permasalahannya.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Beri dukungan </strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Dukungan adalah hal dasar atau sederhana yang dapat mempengaruhi pola pikir anak. Jika Anda memberikan dukungan penuh pada anak, maka secara alamiah anak akan termotivasi untuk belajar .</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Jelaskan manfaat belajar</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Jika anak anda masih malas belajar, sampaikan ke anak anda perihal manfaat belajar. Sampaikanlah dengan lembut, pegertian dan santai. Berbincang ringan mengenai manfaat belajar dan fungsinya untuk masa depan dapat membuka pikiran anak Anda. Informasikanlah bahwa dengan belajar kita bisa meraih dan mendapatkan apa yang dicita-citakan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
