<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tunagrahita &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<atom:link href="https://sekolahku.sch.id/tag/tunagrahita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 Feb 2023 08:13:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://sekolahku.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/cropped-sekolahku-favicon-32x32.png</url>
	<title>tunagrahita &#8211; HomeSchooling Sekolahku &#8211; HomeSchooling Terbaik di Depok, Jawa Barat &#8211; Indonesia</title>
	<link>https://sekolahku.sch.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Yuk, Mengenal Tentang Anak Berkebutuhan Khusus</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2023/02/04/yuk-mengenal-tentang-anak-berkebutuhan-khusus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2023 09:50:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak autis]]></category>
		<category><![CDATA[anak berkebutuhan khusus]]></category>
		<category><![CDATA[psikologana]]></category>
		<category><![CDATA[tunagrahita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=958</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Dwi Puspitasari, S.Psi Hai Sobat, apakah kalian sudah mengenal atau mungkin tak asing dengan “anak berkebutuhan khusus”? Menurut kalian apa sih anak berkebutuhan khusus itu? Mungkin ada yang menjawab anak berkebutuhan khusus itu adalah anak yang dianggap cacat, bisu atau idi*t, BIG NO ya Sobat. Yuk, ikutin kak Puspita terus ya untuk mengenal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><br><br>Oleh : Dwi Puspitasari, S.Psi<br><br>Hai Sobat, apakah kalian sudah mengenal atau mungkin tak asing dengan “anak berkebutuhan khusus”? Menurut kalian apa sih anak berkebutuhan khusus itu? Mungkin ada yang menjawab anak berkebutuhan khusus itu adalah anak yang dianggap cacat, bisu atau idi*t, BIG NO ya Sobat. Yuk, ikutin kak Puspita terus ya untuk mengenal tentang anak berkebutuhan khusus.<br>Anak berkebutuhan khusus (ABK) yaitu anak-anak yang memiliki ketunaan atau kelainan pada segi fisik, mental, emosi, dan sosial atau gabungan dari hal-hal tersebut sehingga perlu pelayanan pendidikan yang khusus dan disesuaikan dengan ketunaan atau kebutuhan dari masing-masing mereka.<br>Setiap anak memiliki hal yang spesial dengan kebutuhan dan minat belajar yang dapat dipenuhi melalui pendidikan yang bermakna, termasuk anak dengan kebutuhan khusus. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak Republik Indonesia memetakan anak kebutuhan khusus lebih dalam, seperti berikut ini :<br><strong>Disabilitas fisik,</strong> anak yang mengalami gangguan gerak akibat lumpuh, tidak lengkap pada anggota tubuh, keabnormalan bentuk, fungsi serta anggota gerak<br><strong>Disabilitas intelektual, </strong>dimana anak memiliki kercerdasan yang berada jauh berada di bawah rata-rata anak seusianya dan disertai dengan ketidakberdayaan pada perilaku yang muncul dalam masa perkembangan<br><strong>Disabilitas penglihatan, </strong>anak yang mengalami gangguan daya penglihatannya seperti kebutaan yang menyeluruh (totally blind) atau sebagian (low vision)<br><strong>Disabilitas pendengaran,</strong> anak yang mengalami gangguan pada indera pendengar baik menyeluruh dan rata-rata memiliki hambatan berbahasa dan berbicara<br><strong>Disabilitas sosial,</strong> anak yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi serta kontrol sosial yang berperilaku menyimpang.<br><strong>Autism spectrum disorders (ASD),</strong> anak yang mengalami gangguan pada kemampuan komunikasi, interaksi, serta pola-pola perilaku yang berulang-ulang<br><strong>Attention deficit and hyperactivity (ADHD), </strong>anak yang mengalami gangguan perkembangan yang ditandai dengan beberapa permasalahan yaitu gangguan pengendalian diri, masalah rentang atensi atau perhatian, perilaku hiperaktif dan impulsif yang menyebabkan kesulitan berperilaku, berpikir, dan mengendalikan emosi<br><strong>Slow learner, </strong>anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah rata-rata tetapi belum termasuk masalah mental, biasanya anak dengan hambatan tersebut membutuhkan waktu lama dan berulang-ulang ketika menyelesaikan tugas <br><strong>Anak dengan kesulitan belajar,</strong> anak yang memiliki hambatan pada proses psikologis berupa ketidakmampuan mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, dan berhitung<br><strong>Speech delay, </strong>anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa, suara, irama, dan kelancaran berbicara dari usia rata-rata yang disebabkan oleh faktor fisik, psikologis, dan lingkungan secara reseptif maupun ekspresif<br><strong>Gifted, </strong>anak yang memiliki potensi kecerdasan tinggi (berbakat) baik di dalam akademik (pelajaran) maupun di non akademik (musik, seni, olahraga)<br>Anak dengan gangguan ganda, anak yang mempunyai dua atau lebih gangguan kompleks sehingga perlu pendampingan khusus (shadow teacher), pendidikan maupun layanan khusus, dan alat bantu belajar yang khusus.<br>Wah, banyak ya ternyata kategori atau jenis-jenis dari anak berkebutuhan khusus itu. Jadi mulai sekarang, Sobat bisa mengucapkan dengan benar ya. Jangan lagi menyebut mereka dengan konotasi yang negatif, karena tidak ada produk dari Allah yang gagal begitu juga dengan anak berkebutuhan khusus.<br>Okay sekian informasi yang kak Puspita sharing, semoga bermanfaat ya Sobat. Sampai jumpa di lain waktu, terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas bagi Remaja dengan Disabilitas Intelektual atau Tunagrahita</title>
		<link>https://sekolahku.sch.id/2021/08/20/pendidikan-kesehatan-reproduksi-dan-seksualitas-bagi-remaja-dengan-disabilitas-intelektual-atau-tunagrahita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[HSSekolahku]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2021 03:24:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[disabilitas]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan seks anak]]></category>
		<category><![CDATA[reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[tunagrahita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sekolahku.sch.id/?p=618</guid>

					<description><![CDATA[Penyusun : Imarotul Mashiroh, S.Psi Masa dimulainya pubertas pada anak dengan disabilitas intelektual kurang lebih sama dengan anak-anak lain. Remaja dengan disabilitas intelektual sebagaimana remaja lain juga akan mengalami perkembangan baik fisik, kognitif maupun psiko-sosial. Mereka juga akan memiliki ketertarikan romantis terhadap lawan jenis. Namun, di sisi lain mereka belum memiliki kemampuan kognitif yang cukup [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penyusun : Imarotul Mashiroh, S.Psi</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masa dimulainya pubertas pada anak dengan disabilitas intelektual kurang lebih sama dengan anak-anak lain. Remaja dengan disabilitas intelektual sebagaimana remaja lain juga akan mengalami perkembangan baik fisik, kognitif maupun psiko-sosial. Mereka juga akan memiliki ketertarikan romantis terhadap lawan jenis. Namun, di sisi lain mereka belum memiliki kemampuan kognitif yang cukup untuk mengembangkan kontrol terhadap dorongan-dorongan dalam dirinya. Selain itu, pengetahuan yang terbatas mengenai isu-isu seksual dan reproduksi serta rendahnya <em>self-esteem</em>&nbsp;akan mengarahkan mereka untuk mudah menuruti permintaan orang lain yang sangat beresiko pada terjadinya pelecehan atau kekerasan seksual. Sehingga, pendidikan reproduksi dan seksual sangat penting diberikan untuk mendampingi siswa dalam menghadapi perubahan-perubahan yang ia alami saat memasuki fase remaja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut ini adalah beberapa topik edukasi reproduksi dan seksual yang perlu disampaikan kepada remaja dengan intelektual disabilitas.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Hak Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (HKRS)</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Orang tua atau pengasuh perlu memahami HKRS seperti hak untuk mendapatkan informasi dan pendidikan serta hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk. Dengan memahami hak-hak tersebut, diharapkan orang tua atau pengasuh mampu melindungi, memperjuangkan dan membela HKRS individu dengan disabilitas intelektual. &nbsp;&nbsp;</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Konsep laki-laki dan perempuan</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep perempuan dan laki-laki salah satunya dapat dijelaskan dengan menguraikan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Hal ini perlu dilakukan untuk menumbuhkan kewasapadaan pada anak-anak sehingga terhindar dari pelecehan seksual. Mereka juga perlu dibekali penjelasan detail tentang pentingnya menjaga area privat tubuh serta batasan-batasan sentuhan fisik yang aman dan tidak aman.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Kebersihan tubuh</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Pentingnya menjaga kebersihan diri perlu ditanamkan diiringi dengan mendampingi remaja agar mampu membersihkan diri secara mandiri. Orang tua dapat menjelaskan tentang langkah-langkah membersihkan diri yang sehat, mandi dan berpakaian di tempat yang tertutup, serta bagaimana menggunakan pembalut dengan cara yang sehat bagi remaja perempuan.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Seksualitas dan kehamilan</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Fokus pembelajaran bisa mencakup penjelasan mengenai perilaku-perilaku seksual yang menyebabkan kehamilan, kehamilan yang tidak diinginkan, serta kondisi ideal dan syarat-syarat seseorang mengalami kehamilan. Metode pembelajaran yang lebih konkret seperti menggunakan video edukatif atau mempertemukan siswa dengan ibu hamil dan bayi dapat menjadi opsi untuk membantu siswa &nbsp;memahami hal-hal yang bersifat abstrak. &nbsp;</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Membangun relasi tanpa kekerasan </strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Orang tua dan pengasuh dapat menjelaskan tentang dasar-dasar dalam menjalin relasi seperti pentingnya berkomunikasi dengan sopan, menentukan batasan aman dan tidak aman dalam suatu relasi, bagaimana menjalin pertemanan dan hubungan romantis yang sehat serta pengenalan tentang pernikahan dan membangun keluarga. Selain itu, perlu juga dilatih agar anak mampu mehamami karakteristik teman/sahabat/pacar/guru/orang lain yang aman dan bisa dipercaya.</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Melindungi diri dari tindakan kekerasan</strong><strong></strong></li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa dibekali dengan kemampuan melindungi diri, remaja dengan disabilitas intelektual sangat rentan dengan berbagai jenis kekerasan. Sehingga orang tua dan guru perlu memperkenalkan berbagai jenis kekerasan fisik dan kekerasan seksual serta menjelaskan bagaimana cara-cara melindungi diri dan menentukan respon yang tepat jika menghadapi kekerasan, seperti menyelamatkan diri dengan cara berteriak keras, lari ke tempat ramai, serta melaporkan kejadian kekerasan kepada orang tua atau orang yang aman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah-langkah pencegahan juga perlu konsisten dijelaskan secara spesifik dan detail tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan baik saat di rumah, di transportasi umum bahkan juga di media sosial. Pengawasan dari orang tua sangat diperlukan mengingat kemampuan kontrol diri remaja dengan disabilitas intelektual sedang berkembang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan DSM 5, Individu dengan disabilitas intelektual ialah individu dengan keterbatasan yang signifikan dalam fungsi intelektual dan perilaku adaptif yang tercermin melalui kemampuan konseptual, sosial dan praktis. Sehingga edukasi seksual dan reproduksi perlu disampaikan dengan prinsip-prinsip yang sesuai dengan keunikan yang mereka miliki. Komitmen, penyederhanaan, konsistensi dan perlindungan perlu diterapkan agar informasi yang disampaikan dapat diserap dengan maksimal.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sumber: </strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas bagi Remaja dengan Disabilitas Intelektual (2020).</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
